Lutfi Farah Afifah

The Wall

You need to sign in to comment
No comments

Newsfeed

  • Indonesia, begitulah nama negara yg sangat aku cintai, nama yg diberikan oleh para bapak bangsa dengan dilampiri segenap harapan agar masa depan negaranya semakin cerah. Begitu banyak kekayaan di Indonesia, mulai dari alamnya sampai budayanya. Para penduduknya yang ramah tamah dengan segala kesederhanaan yang mereka miliki. Namun, semua itu hanyalah cerita di masa lalu yang kini menjadi kenangan.
    Negara ini sudah berbeda dengan negara yang ku kenal dulu. Bukan lagi Indonesia yang menjunjung tinggi kesopanan maupun Indonesia yang paham akan arti perbedaan. Moral masyarakatnya pun semakin turun. Belakangan banyak pemberitaan tentang kasus seksual yang menelan kaum hawa sebagai korban jiwa. Bahkan para anak di bawah umur pun kini sudah menjadi incaran para pedofilia. Tak hanya itu, para begal yang dengan tanpa rasa bersalahnya menghabisi nyawa korbannya hanya demi sebuah motor, hp, dan beberapa lembar uang pun makin marak di masyarakat setahun terakhir ini.
    Tidak hanya moral, namun alam Indonesia pun sepertinya sudah mulai rusak. Tidak hanya mulai, namun memang sudah rusak. Sungai di kota besar sudah jarang yang bersih dari sampah, hutan di Indonesia yang notabene menjadi paru-paru masyarakat pun sudah perlahan berkurang presentasenya. Masyarakat akhir-akhir ini semakin serakah. Merusak pemberian Tuhan untuk memenuhi kepentingan mereka sendiri.
    Dari apa yang telah terjadi, saya sangat berharap masyarakat Indonesia kedepannya lebih menghargai orang lain, masyarakat yang lebih mengerti akan arti moral, dan masyarakat yang lebih mengedepankan nuraninya dari pada kepentingan individu. Sesuatu akan lebih baik jika kita menggunakan hati nurani dan otak secara seimbang. Jangan terlalu mengedepankan otak karena itu akan membuat kita lupa bagaimana menjadi manusia yang seutuhnya. Semua akan terasa seperti kita sedang mengejar satu titik namun kita tidak tau akan semua hal yang telah kita lewati. Kebanyakan orang hanya memperhatikan hasil dan bukannya proses. Mereka akan bangga jika hasil yang mereka peroleh berada di atas rata-rata namun mereka tidak ingin berusaha secara lebih. Alhasil mereka akan menggunakan beberapa cara kotor untuk menuju puncak tanpa peduli berapa banyak orang yang telah mereka rugikan.
    Ilmu sosial dan politik, mengajarkan kita bagaimana rasanya bersosialisasi dengan masyarakat dan bagaimana caranya berpolitik, baik dengan masyarakat maupun pemerintah. Kita diajarkan bagaimana caranya memecahkan masalah-masalah sosial dalam masyarakat, masalah kecil maupun besar. Bukan sekedar mencari kebaikan maupun keburukan suatu peristiwa, melainkan tentang kebenaran dan kesalahan, tentang fakta yang ada dan bukanya kabar burung yang belum jelas asal usulnya. Menjalin hubungan dengan masyarakat luas juga diajarkan disini. Indonesia adalah negara yang cukup potensial untuk menjalin hubungan dengan negara lain, baik perdagangan maupun dalam hal ketenagakerjaan. Agar semua berjalan dengan lancar, tentu dibutuhkan seorang duta dan konsul yang handal untuk menangani hal tersebut. Seorang dengan keahlian berbicara dan bekerjasama serta mampu melakukan tawar menawar agar sebuah kerjasama dapat menguntungkan belah pihak.
    Bermain politik sama saja seperti bersiap untuk menanggung hal-hal dengan resiko yang berat. Politik setahun lalu akan berbeda dengan politik pada tahun sekarang, apalagi pada tahun yang akan datang. Dengan kata lain, politik adalah sesuatu yang tidak monoton. Bukan semakin membaik, tapi akhir-akhir ini politik semakin membingungkan. Semua partai berlomba mencapai puncak terbaik di negeri ini. Susah memang, tapi dengan uang semua akan lancar. Tahun berikutnya, akan sangat bijak jika politik uang ini bisa dibasmi dengan segera.
  • FRATERNITÉ
    Ilmu Komunikasi
    1. Indriana Mega Kresna
    2. Kevin Garindy Junior
    3. Meta Purwatiningsih
    4. Nasy’ah Mujtahidah Madani
    5. Veronica Cintya Hapsari
    6. Yudhistia Prayoga
    Sosiologi
    1. Alifvia Sakti Anini
    2. Angel Kusuma Permatasari
    3. Anggun Nugroho
    4. Rafliza Harnandhitya
    Administrasi Negara
    1. Dimas Ratu Tiemority
    2. Hutami Kanthi Shashanty
    3. Lutfi Farah Afifah
    4. Rehan Hernanda
    Hubungan Internasional
    1. Della Ardyan Dita Alqadri
    2. Paskahita Devie Intansari
    3. Rameez Aali Surya Negara

    LODJI GANDRUNG

    Lodji Gandrung merupakan nama yang diberikan oleh Presiden Ir. Soekarno berdasarkan fungsi gedung itu di masa lalu. Jika diartikan, “loji” berarti rumah bersar, bertembok, bagus; “gandrung” berarti pesta dansa atau ramah tamah. Gedung ini dulunya digunakan untuk tempat berkumpul keluarga keraton untuk berpesta dansa. Lodji Gandrung pada zaman dahulu dikuasai oleh Belanda, yaitu keturunan dari Yohanes Agustinus Desentje. Kemudian dikuasai Jepang saat berhasil masuk ke Indonesia. Kini, Lodji Gandrung lebih dikenal oleh masyarakat luas sebagai tempat kediaman walikota Surakarta.

    http://jalan2.com/objek-wisata/detail/loji-gandrung

  • Lutfi Farah Afifah joined our site!