Anggun Nugroho

The Wall

You need to sign in to comment
No comments

Newsfeed

  • O LANDMARK KELOMPOK FRATERNITÉ

    Pendamping: Muhammad Sulthon Nooreza

    Ilmu Komunikasi

    1. Indriana Mega Kresna

    2. Kevin Garindy Junior

    3. Meta Purwatiningsih

    4. Nasy’ah Mujtahidah Madani

    5. Veronica Cintya Hapsari

    6. Yudhistia Prayoga

    Sosiologi

    1. Alifvia Sakti Anini

    2. Angel Kusuma Permatasari

    3. Anggun Nugroho

    4. Rafliza Harnandhitya

    Administrasi Negara

    1. Dimas Ratu Tiemority

    2. Hutami Kanthi Shashanty

    3. Lutfi Farah Afifah

    4. Rehan Hernanda

    Hubungan Internasional

    1. Della Ardyan Dita Alqadri

    2. Paskahita Devie Intansari

    3. Rameez Aali Surya Negara

    LODJI GANDRUNG Lodji Gandrung merupakan nama yang diberikan oleh Presiden Ir. Soekarno berdasarkan fungsi gedung itu di masa lalu. Jika diartikan, “loji” berarti rumah bersar, bertembok, bagus; “gandrung” berarti pesta dansa atau ramah tamah. Gedung ini dulunya digunakan untuk tempat berkumpul keluarga keraton untuk berpesta dansa. Lodji Gandrung pada zaman dahulu dikuasai oleh Belanda, yaitu keturunan dari Yohanes Agustinus Desentje. Kemudian, dikuasai Jepang saat berhasil masuk ke Indonesia. Kini, Lodji Gandrung lebih dikenal oleh masyarakat luas sebagai tempat kediaman walikota Surakarta.http://jalan2.com/objek-wisata/detail/loji-gandrung
  • Surat Untuk Indonesia.

    Merdeka! Merdeka! Merdeka!. Kata itulah yang dikumandangkan seluruh rakyat Indonesia 71 tahun silam. Ketika tirani kekuasaan Jepang telah selesai, ketika pintu gerbang kemerdekaan Indonesia terbuka, lewat sebuah seruan dari seorang yang tegas dan berwibawa. Ya, teks proklamasi seruannya, Bung Karno penyerunya, seluruh rakyat Indonesia yang memperjuangkannya. 71 tahun berlalu, apakah makna merdeka yang benar-benar sejati sudah dicapai oleh Indonesia, atau malah merdeka hanya 71 tahun yang lalu dan kini telah berlalu?
    Kini Indonesia memasuki era modern dalam banyak bidang. Teknologi, ekonomi, budaya, dan lain-lain. Teknologi dari Indonesia terbilang masih kalah bersaing daripada teknologi negara lain. Terlihat jelas pada teknologi transportasi, Indonesia masih banyak mengimpor kendaraan dari luar negeri terutama dari negara Jepang. Beberapa pabrikan ternama milik negri sakura tersebut saat ini diketahui cukup mendominasi pasaran kendaraan roda dua di Indonesia. Tak berbeda jauh dengan pasaraan kendaraan roda dua, pasaran kendaraan roda empat juga masih dikuasai dan didominasi oleh pabrikan asal luar negeri. Indonesia saat ini terkenal masih dalam proses pengembangan, misalnya ketika ada siswa SMK yang menciptakan mobil tenaga surya, motor listrik, dan sebagainya. Penemuan dan penciptaan yang luar biasa tersebut seharusnya tidak dianggap remeh oleh pemerintah. Seharusnya pemerintah melihat itu sebagai peluang untuk ikut bersaing di pasar. Namun tak sedikit pula kendala yang dihadapi oleh Indonesia. Salah satunya adalah modal yang kurang untuk bersaing, tenaga kerja yang sedikit dan masih kurang berkompeten, kendala-kendala inilah yang seharusnya segera kita akhiri bersama dan kita cari jalan keluarnya bersama agar kita mampu menunjukkan kepada mata dunia bahwa Indonesia itu ada dan bisa.
    Di bidang ekonomi tak jauh berbeda. Pemerintah sering kewalahan melayani jumlah permintaan beberapa komoditi yang semakin hari semakin meningkat dan tidak pernah menurun. Dengan sangat terpaksa, pemerintahpun memutuskan untuk mengimpor komoditi dari luar. Salah satunya adalah beras yang didatangkan dari Thailand. Tentu saja kebijakan ini di satu sisi membuat permintaan akan beras dapat dipenuhi dengan optimal, namun di sisi yang bersebrangan, para petani tentunya menjerit keras karena produk (beras) yang mereka upayakan, yang mereka rawat, yang mereka kelola di sawah tidak dapat dijual maksimal. Tentu saja akibatnya pendapatan mereka berkurang.
    Di bidang budaya, mulai muncul budaya asing yang tidak sesuai dengan adat ketimuran khas budaya Indonesia. Bahkan sekarang sangat terlambat apabila saya mengatakan mulai. Mungkin kata sudah lebih tepat untuk menggantikan kata mulai. Ya, budaya Indonesia mulai tergerus oleh budaya luar. Walau kebanyakan hal ini disebabkan oleh efek negatif globalisasi, namun kita tak boleh semata-mata menyalahkan globalisasi sebagai penyebab satu-satunya budaya Indonesia tergerus. Tanpa globalisasi, kitapun tak akan mengenal dunia luas yang sekarang bisa kita akses dengan mudah lewat internet.
    Harapan untuk Indonesia adalah, Indonesia yang lebih baik. Indonesia yang benar-benar merdeka bukan hanya ucapan yang terkenang 71 tahun lalu. Indonesia yang benar-benar mengandung makna merdeka sejati di jiwa dan raganya.
    Maka dari itu, kita sebagai civitas akademik FISIP UNS, sudah menjadi kewajiban kita untuk menjadikan Indonesia merdeka seluruhnya, merdeka 100%, merdeka yang benar-benar merdeka. Indonesia membutuhkan kita. Para pejuang kemerdekaan masa kini yang berjuang tidak menggunakan kekerasan, perang, dan sebagainya, melainkan dengan akal kita, dengan kepandaian dan kecerdasan kita, dengan ahklak yang mulia, dengan perilaku yang disiplin dan jujur, marilah kita wujudkan Indonesia merdeka, yang benar-benar merdeka. Terbebas dari belenggu dominasi negara asing. Biarlah merah putih berkibar tinggi di udara. Menunjukkan kegagahan Indonesia yang sebenarnya. Merdeka! Merdeka! Merdeka!

  • Anggun Nugroho joined our site!
    Aug 9 '16
    0 0