annisa tri utami

The Wall

You need to sign in to comment
No comments

Friends

Newsfeed

  • Pedagang Kaki Lima di Surakarta


    Pertumbuhan dan perkembangan kota Surakarta sangat pesat. Akan teapi dengan ditunjangnya pembangunan yang memadai tak lepas dari pedangan kaki lima (PKL) dan juga tersedianya mal mal di Surakarta mendorong para pedagang kaki lima (PKL) berjualan di sekitar mal. Ditinjaunya dari tempat umum banyak sekali pedangang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan dan terkadang menganggu penguna jalan kaki di trotoar, sehingga menimbulkan macet.

    Akan tetapi kehadiran pedagang kaki lima memliki sisi baik, terutama untuk masyarakat sekitar misalnya saja harga makanan yang di jual di pedaang kaki lima (PKL) lebih murah dibandingkan harga di restoran-restoran. Hal inilah yang menjadikan pedagang kaki lima sebagai tempat alternative belanja makanan.

    Kegagalan sebuah usah kecil adalah hal yang biasa. Kebanyakan orang ingin meririntis suatu usaha langsung di titik puncak, tidak melihat usaha apa saja yang harus di rintis dari nol. Salah satu faktor penyebab kegagalan adalah kurangnya modal yang memadai. Biasanya pengeluaran lebih besar daripada pendapatan. Hal ini adalah hal utama yang membuat kebangkrutan dan gagal untuk merintis usaha.

    Untuk mendapatkan pendapatan yang banyak dibandingkan pengeluaran, sebagai seorang penjual kita harus menjual produk hingga laris manis dengan memiliki kemampuan menjual yang bagus.

    Sebagai contoh dari narsumber terpercaya seorang pedagang kaki lima yang berjualan sate keliling.

    Di kota Surakarta terdapat pedagang kaki lima ( PKL ) yang berjualan di pinggir jalan. Salah satunya pedagang sate yang berjualan di Jebres Tengah, Surakarta, tepatnya di dekat kampus UNS yang bernama Pak Romli. Pak Romli berasal dari Madura. Dia berjualan dari tahun 2013 sampai sekarang. Pak Romli memulai berjualan di Kalimantan selama 1 tahun dan setelah 1 tahun Pak Ramli pindah di jawa, tepatnya di kota Surakarta, di daerah Jebres Tengah Rt. 23 kec. Jebres kota Surakarta. Beliau mengatakan bahwa penghasilannya sehari kurang lebih Rp.100.000. Pak Romli mulai berkeliling jam 8 malam di sekitar Surakarta.

    Pengalamannya Pak Romli yang berjualan beberapa tahun membuat berkembang pesat dan dikenal di daerah Surakarta. Pak Romli juga berkata bahwa beliau memulai karirnya dari nol, dulunya Pak Romli setelah dari Kalimantan mengontrak di suatu kecamatan di daerah Surakarta. Lalu setelah sukses dalam berjualan Pak Romli berhasil membeli rumah sendiri di Vetora Rt. 04 / Rw. 03.Beliau juga memberi tips berjualannya bisa sesukses sekarang yaitu dengan kerja keras, jujur, ulet dan bersungguh-sungguh.

    Begitulah cerita Pak Romli yang saya wawancarai ketika saya membeli sate di dekat kost.
  • Kesan dalam pembuatan bendera seru sangat seru, disitu kami belajar banyak tentang tanggung jawab dan solidaritas, kami disuruh membuat bendera kebetulan kelompok besar kami mendapat bendera besar, kami saling membagi tugas ada yang kebagian membuat bacaan fisip, hebat, dan lambang fisip dalam dari mulai membuat huruf satu satu, memotong, terus terakhir memilok, kami hampir mendapat banyak kejadian huruf S yang salah, huruf P yg hilang😂, di bagian milok yang agak susah terutama untuk di lambangnya, TAPI AKHIRNYA KITA SEMUA DAPAT MENYELESAIKAN SEMUANYA DENGAN BAIK DAN TEPAY WAKTU...DAN TENTUNYA KAMI SEMUA DI BIMBING OLEH KAKA KAKAK PENDAMPING YANG HEBAT.

    FISIP HEBAT
  • Buku Diary
  • CO CARD
  • annisa tri utami and Agung Tri Anugrah are now friends
     
  • Perkenalkan nama saya Annisa Tri Utami, biasa di panggil Nisa, saya lahir di Jakarta 2 Maret 1998. Orangtua saya bernama Sutikno Budi Santoso dan Janiah. Saya tinggal di Jl gaga Blok Lontar Jakarta Barat.

    Saya mahasiswa baru program Diploma 3 Perpustakaan Fisip di Universitas Sebelas Maret atau yang biasa disebut UNS, saya masuk lewat jalur seleksi mandiri.

    Motivasi saya memilih prodi perpusatakaan yaitu karna saya sangat menyenangi bidang perpustakaan dan juga saya gembar mebaca terutama buku fiksi, banyak sekolah-sekolah dari SD sampai SMA baik Negri maupun swasta tenaga perpustkaan (pustakawan) yang tidak berlatar belakang pendidikan perpustakaan (tidak the right men on the right place) padahal perpustakaan mempunyai sumbangan besar terhadap peningkatan mutu pendidikan baik akademik maupun non akademik. Padahal jika di negara negara maju seorang super visor pendidikan (asesor, pengawas) jika monitoring sekolah yang pertama ditanyakan adalah "mana perpustakaanya?" "ada berapa judul buku fiksi maupun nonfiksi?" "berapa jumlah peminjam?" Berapa jumlah pengunjung setiap hari,bulan?" Oleh karna itu saya ingin memajukan bidang perpustakaan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang akan saya dapatkan selama saya kuliah prodi perpustakaan di Kampus UNS tericinta.

    Cita cita saya ingin menjadi pustakawan yang profesional sesuai dengan latar belakang pendidikan yang akan saya tempuh.
    Aug 9 '16
    0 0
  • Aug 9 '16
    0 0
  • annisa tri utami edited their profile details
  • annisa tri utami changed their avatar
    Aug 9 '16
    0 0
  • annisa tri utami joined our site!
    Aug 9 '16
    0 0