Sasha Aryaldina

The Wall

You need to sign in to comment
No comments

Blog

  • Nama anggota:1. Anggi Ragil Khristan ti2.Akbar Faizul Muttaqien3.Nur Hidayah4.Reyna Salsabila Cahyade...
    · Aug 13
  • Indonesia Selama delapan belas tahun umur saya, Indonesia telah menjadi rumah bagi saya. Dan se...
    · Aug 8
  • Bagi saya, kalimat yang tepat untuk m enggambarkannya adalah, “Saat saya menjadi pemimpin”. Saat, me...
    · Aug 3

Newsfeed

  • Emmanuel Macron di Pasar Nongko
    Nama anggota:1. Anggi Ragil Khristanti2.Akbar Faizul Muttaqien3.Nur Hidayah4.Reyna Salsabila Cahyadewi5.Bagas Suryo Prihantoro6. Siswi Diyan Kusumanin...
    Aug 13
    0 0
  • Surat Untuk Indonesia
    Indonesia

    Selama delapan belas tahun umur saya,
    Indonesia telah menjadi rumah bagi saya. Dan selama delapan belas tahun itu
    pula, Indonesia meng...
    Aug 8
    0 0
  • Jika Aku Menjadi Pemimpin
    Bagi saya, kalimat yang tepat untuk
    menggambarkannya adalah, “Saat saya menjadi pemimpin”. Saat, menjadi kata
    kuncinya. Karena ini bukan sekedar pen...
    Aug 3
    0 0
  • Jika aku seorang pemimpin

    Bagi saya, kalimat yang tepat untuk menggambarkannya adalah, “Saat saya menjadi pemimpin”. Saat, menjadi kata kuncinya. Karena ini bukan sekedar pengandaian. Ini adalah siapa saya, apa yang saya percayai, dan apa yang benar-benar saya perjuangkan.
    Pemimpin. Saya percaya bahwa menjadi seorang pemimpin tidak membuatmu lebih dari yang lain, tidak peduli dalam lingkup apapun kamu memimpin. Kita semua memiliki suara yang sama, memiliki hak yang sama. Bagi saya itulah yang terpenting, sepenuhnya sadar bahwa siapapun kamu, darimana asalmu, siapa keluargamu, kamu memilik hak yang sama. Tidak peduli kamu laki-laki atau perempuan, tua atau muda. Kita semua sama. Mungkin kita terlalu sering mendengarnya. Equal rights. Tapi memang itulah yang kita butuhkan, yang dunia ini butuhkan. Kesetaraan. Persamaan hak. Kata-kata itu ada dimana-mana, hampir semua orang mengklaim bahwa mereka mendukungnya. Namun, ketika mereka dihadapkan pada kasus yang benar-benar terjadi di depan mereka, banyak yang kemudian menyebutnya bertentangan dengan kebiasaan dan norma. Sebagai seorang pemimpin, saya akan berjuang untuk mencapainya. Saya akan mewujudkan persamaan hak dalam segala lini kehidupan, segi ekonomi, politik, social. Bahkan dalam lingkup paling kecil sekalipun, dalam lingkup keluarga. Saat anak laki-laki juga dibebankan oleh pekerjaan rumah seperti mencuci piring dan saat anak perempuan tidak dianggap menentang kebiasaan dengan menyukai olahraga. Saat para isteri menyerahkan karier mereka demi menjadi ibu rumah tangga dengan sukarela, dan bukan atas paksaan suami. Saat laki-laki bisa mengekspresikan emosi mereka tanpa dipandang lemah.
    Sebagai perempuan, kami sering dianggap tidak mampu memimpin. Hal ini terjadi dalam dikehidupan sehari-hari, di sekolah misalnya. Selama dua belas tahun saya bersekolah, SD, SMP, SMA, belum pernah sekalipun kelas saya dipimpin oleh seorang ketua kelas perempuan. Bahkan saat masih duduk di Sekolah Dasar, Wali Kelas saya selalu cenderung memilih anak laki-laki berbadan besar untuk menjadi Ketua Kelas. Dan pernah suatu waktu saat sedang berdiskusi dengan seorang sepupu yang masih duduk di kelas empat SD, saya bertanya kenapa dia tidak mencalonkan diri sebagai Ketua Kelas, dan jawabannya membuat berbagai macam emosi muncul dalam pikiran saya. Dengan polos, dia menjawab, “Ketua Kelas ya harusnya cowok”. Inikah yang ditanamkan dalam kepala para penerus bangsa, bahwa jika kamu terlahir perempuan kamu tidak akan mampu memimpin sebaik laki-laki?, bahwa semua pemimpin hebat adalah laki-laki?. Lalu bagaimana bisa, begitu mereka dewasa, mereka diharapkan untuk maju kedepan dan memimpin bangsa, saat sejak kecil pikiran bahwa mereka tidak akan bisa lebih baik dari laki-laki telah ditanamkan dalam otak mereka. Dan sebagai seorang pemimpin, saya akan mengubahnya. Banyak perempuan-perempuan hebat diluar sana, banyak negara di dunia yang dipimpin oleh perempuan, dan tidak terhitung banyaknya perempuan diluar sana yang memegang peranan besar dalam dunia. Saya akan menjadi salah satunya.
    Saat menjadi seorang pemimpin perempuan, saya akan menjunjung tinggi persamaan hak dan kesetaraan. Saya akan mendengar suara mereka, baik laki-laki maupun merempuan. Saat saya menjadi seorang pemimpin, saya ingin dikenal sebagai seseorang yang berjuang demi visi bersama, bukan karena upaya mendominasi suatu kelompok. Saya ingin berjuang bersama anggota saya, bukannya mendapat keuntungan dari kerja keras mereka. Saya ingin bekerja bersama, bahkan bekerja jauh lebih keras karena tanggung jawab saya sebagai seorang pemimpin.
    Saat saya menjadi seorang pemimpin, saya akan mendengar aspirasi anggota saya, siapapun mereka. Karena saya memimpin demi mereka, demi visi kami bersama.

    #fisiptangguh #pkkmb2017
    Aug 2
    0 0
  • Sasha Aryaldina joined our site!
    Aug 2
    0 0