• Surat Untuk Indonesia
    Oleh: Muhammad Alif Alauddin

    Jakarta, 19 April 2017 menjadi hari puncak pesta demokrasi warga Jakarta untuk memilih Gubernur dan Wakil Gubernur periode 2017-2022. Suhu politik nasional tiba-tiba menghangat dengan berbagai macam isu dan propaganda, tak luput pula tokoh-tokoh nasional yang ikut meramaikan serta memberi pendapat menjadi bara api tersendiri. Sebagai salah satu warga Jakarta, saya merasa heran dengan situasi yang jarang terjadi seperti ini. Keharmonisan antar warga yang sudah terbangun sejak dulu seakan pupus di tiup oleh angin kebencian. Jakarta rapuh, terbelah menjadi dua kubu. Ditambah dengan pengalaman pilpres 2014 silam yang sampai sekarang masih membekas. Sangat disayangkan apabila Jakarta yang merupakan miniatur Indonesia tidak dapat menjadi percontohan bagi daerah lain dalam hal berdemokrasi. Syukur kita panjatkan, dengan terpilihnya Bapak Anies Rasyid Baswedan, Ph.D dan Bapak Sandiaga Salahuddin Uno, MBA sebagai Gubernur terpilih periode selanjutnya sebagai akhir dari rangkaian drama politik yang telah menghabiskan uang serta menguras emosional warga Jakarta yang tidak sedikit jumlahnya. Besar harapan dengan menjadikan pengalaman Pemilihan Umum Daerah (PILKADA) yang bertensi Nasional mampu menjadikan Indonesia lebih dewasa, karena negara ini terlalu kuat untuk dipecah belah hanya dengan isu SARA.

    Itulah sekilas potongan sejarah yang paling viral dalam kurun satu tahun kebelakang. Hanya untuk memperebutkan satu kursi, berbagai isu krusial lainnya dikesampingkan; pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial, pemerataan pembangunan, dll seketika hilang dari pemberitaan. Sayangnya, rakyat ini kurang kritis dan secara tidak sadar turut terbawa olehnya. Sesungguhnya Indonesia tidak memiliki masalah dengan kebinekaan, melainkan dengan hokum. Hukum di negeri ini sudah terlanjur dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Oleh karena itu, berbagai aksi yang diselenggarakan lintas ormas sebagai wujud aspirasi masyarakat untuk menerapkan humum dengan wajar tanpa tebang-pilih.
    Sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret, saya akan terus menyuarakan pendapat yang berasas keadilan rakyat. Langkah nyata yang akan saya lakukan bersama mahasiswa lain adalah memberikan pengetahuan berpolitik melalui perangkat masyarakat baik secara langsung maupun tidak (media online). Oleh karena itu, aku memiliki beberapa harapan untuk bangsa ini.

    Untukmu Indonesiaku,
    Engkau telah belajar banyak sepanjang usiamu. Keberagaman suku, agama, ras, dan golongan telah mempersatukan jiwa yang terpecah belah menjadi satu. Semboyan Bhineka Tunggal Ika sudah mengakar di setiap jiwa dan raga warga negara. Kami tidak perlu belajar dari bangsa lain akan keberagaman, apalagi toleransi. Kami bangsa Indonesia sudah tahu betul akan hal itu. Karena Pancasila adalah panduan kami dalam bersikap. Wujud kemakmuran dalam keberagaman ditunjukkan ketika bangsa ini berjuang memperebutkan kemerdekaan.

    Untukmu Indonesiaku,
    Tidaklah langit melukiskan keagungan ibu pertiwi? Eloknya paras alam membuat bangsa di seluruh dunia kagum denganmu. Ombak-ombak yang menari di sepanjang pantai mengajakku untuk terus tetap mencintaimu. Kekayaan sumber daya alam sungguh menjadi nikmat tiada terkiram sungguh nikmat tuhan mana yang kau dustakan?

    Untukmu Indonesiaku,
    Perjalanan satu tahun terakhir telah menjadikan kami lebih dewasa dalam bersikap. Bahwa perjalanan ini masih sangat panjang, banyak pekerjaan rumah yang menunggu untuk diselesaikan. Umurmu masih terlalu belia dibandingkan negara lain di dunia, masih banyak pengalaman yang harus dicoba.

    Untukmu Indonesiaku,
    Tetaplah menjadi yang terbaik. Aku bersama mahasiswa yang lain akan terus mengharumkan nama mu sesuai dengan bidang kami. Meraih mimpi-mimpi kami demi cita-cita mulia, menjadikan ibu pertiwi tersenyum. Hingga pada akhirnya, manakala kami sudah sampai di titik kesuksesan dengan bangganya akan kuucapkan “Aku bangga menjadi orang Indonesia!”

    Surakarta, 8 Juli 2016
    Aug 8
    0 0