• Teruntuk Indonesiaku,
    Bagaimana kabarmu? Apa kamu masih Indonesia yang dulu kukenal? Indonesia yang sangat kukagumi semenjak aku mengerti apa artinya hidup dan kehidupan. Indonesia yang indah, Indonesia yang aman, tentram dan nyaman. Indonesia yang kompleks, Indonesia yang kaya lebih tepatnya. Indonesia yang membuatku dan keluargaku hidup bahagia sepanjang tahun. Indonesia yang tak pernah bosan tersenyum padaku di kala terik maupun hujan. Aku yakin kamu masih Indonesia yang sama, Indonesia yang hebat.

    Indonesiaku, negeri yang mempesona. Aku ingin selalu bangga karenamu, Indonesiaku. Kesayanganku. Aku ingin selalu menyebutkan namamu kepada seluruh dunia. Namun harapanku seolah masih terlalu jauh untukmu, Indonesiaku. Aku tidaklah semengharumkan yang kau harapkan. Maafkan aku, maafkanlah.

    Tanah airku, meski kamu melihatku diam, sesungguhnya aku sangat sakit saat kamu dirusak. Hatiku tercabik-cabik melihat anak-anakmu disini. TKW yang sangat merindu anaknya namun tidak bisa pulang. Hatiku teriris saat melihat mereka mendorong kursi roda nenek-kakek. Sebuah kata yang menusuk-nusuk hati, “Inikah arti merdeka bagi mereka?”

    Aku tahu kamu menderita. Banyak kutu-kutu yang menempel di tubuhmu. Mereka menggerogotimu. Sampai kamu tercabik-cabik. Ah, darahku naik ke ubun-ubun mengingat itu. Rasanya ingin kutokok saja kepalanya kutu-kutu parasit itu. Kamu memang lemah dan miskin. Maaf, aku tak bermaksud menghinamu. Tapi itu memang benar.

    Aku juga turut bersedih melihat keadaan putra-putri bangsamu. Bagaimana tidak, saat tetanggamu sudah mulai bergerak melangkah ke dunia luar, putra putrimu malah masi terlarut dalam alam mimpinya, masih bersetubuh dengan bantal dan gulingnya. Putra-putri yang harusnya mengibarkan benderamu, putra putri yang harusnya megumandangkan dengan lantang ikrar pancasilamu, seolah-olah buta dan tuli dengan nasib mereka sendiri

    Aku tahu itu tidak hanya itu yang membuatmu menangis, mungkin kamu sedih karena tidak lagi bisa memberikan kebahagiaan kepada bocah-bocah saat ini seperti yang kamu berikan kepadaku saat aku kecil dulu. Bagaimana tidak, sebuah TV hitam putih yang dulu menjadi favorit anak-anak di minggu pagi, telah berubah menjadi layar datar yang 17” dengan processor canggihnya yang bisa membawa anak-anak melampaui batas alam imajinasinya yang akan merusak selubung otak kiri mereka. Tidak ada lagi layangan di pagi hari, tidak ada lagi petak umpet di komplek-komplek rumah. Semua berubah begitu cepat. Ayah sibuk memperebutkan sebuah kursi di gedung pemerintahan, Ibu pun telah lupa bahwa sudah harus menanak nasi dan lauk di sore hari.

    Sekarang ini memang kebaikan sangat sulit ditemui disini. Keadilan sulit ditegakkan. Kebenaran tersamarkan, bukan bukan, lebih tepatnya kebenaran disamarkan. Orang bilang saat ketidakadilan melanda, maka ada hukum yang akan menyelesaikan segalanya. Tapi yang terjadi sekarang justru hukum di bumi ini, yang mengatasnamakan dirimu, hukum Indonesia, telah dimanipulasi pula oleh orang-orang itu. Sehingga tak layak lagi disebut sebagai hukum, lebih pantas disebut monopoli. Monopoli orang-orang besar disana, bukan hukum Indonesia. Monopoli para mafia hukum, monopoli petinggi-petinggi rakus yang selalu haus akan kekuasaan sampai-sampai mengorbankan nama baikmu dan manusia-manusia kecil yang hidup di tempatmu.

    Kawanku Indonesia,
    Aku yakin kamu tak selemah itu. Ini bukan masalah besar bagimu. Tenang saja, kamu masih punya aku, teman-temanku dan putra putri ibu pertiwi lainnya yang tidak akan lagi membiarkanmu terluka. Kamilah yang akan menerbangkan kembali burung garuda, yang akan kembali mengibarkan sang saka. Seperti lirik lagu Iwan Fals “Tak sanggup aku melihat lukamu kawan dicumbu lalat, tak kuat aku melihat jeritmu kawan melebihi dentum meriam”. Percayalah itu
    Aug 8
    0 0