• Jika Aku Menjadi Pemimpin.
    Oleh : Indah Arum Sari

    “Pemimpin itu dilaksanakan, bukan dibaca. Kepemimpinan itulah berdasarkan apa yang Anda lakukan bukan yang Anda katakan” – Jusuf Kalla
    Siapa yang tidak mau menjadi “kepala” daripada menjadi “ekor” ?
    Menjadi seorang pemimpin merupakan hal yang sangat membanggakan. Namun, tidak semudah dan semewah kedengarannya, menjadi pemimpin adalah dia yang dapat memimpin diri sendiri, dia yang pernah menjadi pengikut dan melaksanakan tugasnya dengan baik, dia yang mampu melihat lebih jauh ke depan daripada orang lain, dia yang diciptakan dengan usaha yang keras, serta dia yang dapat menunjukkan suatu cara untuk meyelesaikan soal bukan memerintahkan apa yang harus dilakukan.
    Berbicara tentang pemimpin pasti juga berbicara tentang kekuasaan, kekuatan, dan pengaruh. Pengaruh adalah salah satu kualitas yang paling penting yang wajib dimiliki seorang pemimpin. Dengan memiliki pengaruh yang kuat atas orang-orang yang dipimpin, maka pemimpin dapat mengembangka kesadaran diri setiap orang, untuk mengabdikan diri masing-masing kepada kepemimpinan yang dia pimpin.Lalu siapa saja pemimpin yang dapat menjadi tolak ukur akan pengaruhnya ? Tidak perlu ke negeri seberang. Indonesia pernah punya seorang pemimpin yang memiliki pengaruh lintas negara. Ya, Ir. Soekarno, di hampir setiap tindakan yang diambilnya akan mempengaruhi hidup bangsa Indonesia, bahkan dunia internasional kagum akannya.
    Lalu, apa yang menjadikan mereka sebagai pemimpin yang sangat berpengaruh? Itu dikarenakan karakter-karakter pemimpin yang terpatri dalam jiwa mereka. Terdapat beberapa sifat yang dimiliki seorang pemimpin sejati, yakni visioner adalah mampu melihat kondisi ke depan secara jelas dan telah menetapkan langkah-langkah untuk menjalani kondisi mendatang sebagai peluang kesuksesan. Kedua yakni pendidik, maksudnya disini ialah seorang pemimpin yang mampu memandu orang-orang yang berada dalam tanggung jawabnya. Ketiga, mampu berinovasi adalah sosok pemimpin yang mampu memberikan solusi baru dan berani mencoba hal yang baru. Di lain itu dapat dijadikan sebagai penyemangat dan komunikator.


    Dari paparan diatas saya dapat menyimpulkan bahwa menjadi seorang pemimpin tidak selamanya tentang posisi, namun ini tentang apa yang akan dilakukan untuk diri sendiri, untuk masyarakat banyak agar menjadi lebih baik, tanpa memikirkan keuntungan pribadi sedikitpun.
    Jika saya menjadi pemimpin suatu hari nanti, hal pertama yang akan saya lakukan adalah menata niat yang lurus dan menentukan prinsip serta menerapkannya. Kedua, saya akan lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Karena pemimpin yang berhasil adalah dia yang takut akan Rabbnya, rendah hati dan tekun pada tiap harinya. Ketiga, saya akan menata konsep kerja yang konkret yang nantinya harus bisa terealisasi. Saya ingin bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama yakni menegakkan ketertimpangan hak yang sering terjadi di kalangan masyarakat. Isu pendidikan contohnya, banyak dana subsidi pendidikan yang salah sasaran, sehingga banyak anak yang kehilangan haknya untuk belajar dengan baik bahkan hak untuk mengenyam pendidikan hilang begitu saja. Kenapa saya mengedepankan isu pendidikan disini ? menurut saya cara paling jitu untuk membangun bangsa adalah dengan pendidikan. Saya selalu teringat penjelasan guru sejarah tentang pasca perang dunia ke-dua
    “Saat Jepang hancur, luluh lantak. Hal pertama yang ditanyakan oleh pemimpinnya adalah
    - Berapa guru, dan sekolah yang tersisa ? –“
    Dari sini dapat kita pelajari bahwa Jepang dapat bangkit dari keterpurukan dengan cara pendidikan. Dengan menyiapkan generasi yang benar-benar matang. Itulah yang nanti akan saya terapkan pada awal kepemimpinan, karena saya memiliki impian besar, yakni saya ingin ikut andil dalam memajukan negara kita tercinta, Indonesia.
    Jul 30
    0 0