Surat Untuk Indonesia from Tiara P. Mayzati's blog

Kepada tanah air-ku,

Indonesia

Sang Zamrud Khatulistiwa

 

Negeriku ini benar-benar bhinneka, kaya akan harta berupa perbedaan yang ada di dalamnya. Suku, agama, ras, dan etnisnya begitu beragam. Dari keberagaman tersebut dapat timbul dua kemungkinan: interseksi atau konsolidasi. Yang mana yang kita pilih akan mencerminkan kepribadian bangsa.   

Belakangan ini Indonesia  dirundung banyak problematika menyangkut keberagaman.  Yang paling kentara adalah diskriminasi agama. Diskriminasi ini ada di sekitar kita. Terkadang, tanpa kita sadari, kita sendiri adalah pelakunya. Hal ini tidak lepas dari aspek siapa yang kuat dan siapa yang lemah, mana yang mayoritas dan minoritas. Sebagai pribadi yang menjunjung tinggi identitas asal dan kepercayaan, kita menganggap bahwa ideologi dan pandangan yang kita anut adalah yang paling benar. Sampai-sampai kita lupa bahwa kita bukanlah Tuhan.  Seringkali kita mengikuti arus destruktif masyarakat, mengikuti apa yang ada di sekitar tanpa menyadari bahwa tindakan itu adalah diskriminasi yang harus dihentikan.

Pancasila dan UUD 1945 menjamin kebebasan setiap warga negara untuk memiliki pendapat yang berbeda, termasuk keyakinan. Dalam Pasal 28E UUD 1945 tentang Hak Asasi Manusia disebutkan bahwa negara wajib memberikan jaminan hukum dan perlindungan terhadap setiap warga negara untuk menyatakan pendapat, berkumpul, memeluk agama, meyakini kepercayaan, dan menjalankan ibadahnya masing-masing.

Adanya konstitusi ini jelas menyampaikan bahwa urusan agama dan keyakinan merupakan hak dan privasi setiap warga negara Indonesia. Payung hukum hanya bisa mengintervensi jika keyakinan itu bertentangan dengan dasar negara atau melanggar UU yang berlaku. Sebagai contoh, karena keyakinan, orang melakukan kekerasan, tidak membayar pajak, mengambil yang bukan hak miliknya, dan berbagai tindakan kriminal lain. Intervensi negarapun harus dijalankan dengan proses hukum yang adil, setara, dan menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia. Namun, realita yang terjadi belakangan ini berkontradiksi dengan konstitusi yang ada.

Setiap orang bisa memiliki keyakinan dan interpretasi yang berbeda-beda terhadap segala sesuatu. Apalagi menyangkut hal spritual seperti hubungan dengan Tuhannya. Bahkan orang yang sama-sama menganut satu kepercayaan pun memiliki interpretasi yang berbeda terhadap ajaran dan cara-cara memuji Tuhannya. Oleh sebab itu, keyakinan seseorang adalah mutlak urusan pribadi yang tidak boleh dicampuri oleh negara.

Seseorang tidak bisa diadili karena keyakinannya terhadap Tuhan. Sebab siapakah yang bisa mengatakan bahwa dia memiliki otoritas dari Tuhan untuk mengadili orang lain karena keyakinannya? Bisakah dia menunjukkan bukti otentik dari Tuhannya bahwa ajarannya adalah yang paling benar?

Di masa depan, saya benar-benar menaruh harapan pada bumi pertiwi untuk berubah. Menjadi lebih ramah dan manusiawi terhadap semua orang, terlebih warga negaranya sendiri yang menjadikan negeri ini tempat untuk bernaung dan mencari rasa aman, bukan malah merasakan bagaimana getirnya terintimidasi.

Seluruh anak bangsa harus belajar menghormati perbedaan, khususnya dalam kepercayaan yang dianut setiap warga negara. Jangan ada individu atau kelompok yang ingin menjadi Tuhan bagi orang lain dengan melakukan monopoli atau penguasaan terhadap keyakinan, apalagi menjadikannya sebagai senjata politik.

Untuk menanamkannya, pendidikan multikultural adalah sarana paling efektif. Pendidikan multikultural bisa menjadi sebuah program dan praktik yang direncanakan lembaga pendidikan untuk merespon tuntutan, kebutuhan, dan aspirasi berbagai kelompok di mana lembaga pendidikan itu didirikan. Sebagai contoh, salah satu programnya berupa penanaman moral mengenai perbedaan dan bagaimana menyikapinya.

Meski demikian, harus disadari bahwa pendidikan multikultural itu merupakan suatu proses yang tidak pernah selesai, melainkan berlangsung terus-menerus. Tujuannya tidak pernah bisa langsung tercapai, membutuhkan evaluasi dan improvisasi secara bertahap. Namun saya percaya, kedepannya cita-cita persatuan Indonesia yang hakiki melalui pendidikan multikultural dapat segera terwujud.

Indonesia masih beruntung karena memiliki aset bersama yang bisa mewujudkan interseksi sosial utuh, Pancasila. Dasar negara ini memberi kesempatan dan harapan kepada bangsa untuk bebas dari persoalan kepercayaan di masa depan.  Apabila kita berpegang teguh kepada Pancasila, bangsa kita akan bermuara pada pedoman hidup yang mengakui dan menghargai kebhinnekaan seutuhnya.

 


Previous post     
     Next post
     Blog home

The Wall

No comments
You need to sign in to comment

Post

By Tiara P. Mayzati
Added Aug 8

Rate

Your rate:
Total: (0 rates)

Archives