Surat Untuk Indonesia from Noor Azharul Hanifah's blog

Surat Untuk Indonesia


Kepada Yth.

Bapak Muhadjir Effendy

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia


Saya menjadi warga negara Indonesia kurang lebih selama 18 tahun. Sungguh bangga diri ini menjadi bangsa Indonesia. Karena Indonesia merupakan negara yang  kaya akan sumber daya alam, budaya. Tidak hanya itu banyak ragam suku, agama, bahasa dan lain-lain yang ada di Indonesia. 

Indonesia kini akan menginjak umur yang ke 72 setelah kemerdekaan yang tepat pada tanggal 17 Agustus 1945. Tak terasa sudah tak muda lagi umur negara ini. Tapi diantara kelebihan yang dimiliki Indonesia, tidak diimbangi oleh sumber daya manusianya. Bukan maksud rakyat Indonesia tidak berkualitas. Karena pada kenyataannya sebagian orang cerdas di dunia, terlahir dari rakyat Indonesia. Melalui surat ini saya akan menyampaikan keluhan rakyat yang saya dengar disana sini. 

Mengenai pendidikan, pada tahun ini 2017-2018 diterapkan sistem zonasi berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan no. 17 tahun 2017. Pada intinya isi peraturan tersebut mengharuskan calon siswa baru hanya bisa mendaftar di sekolah berdasarkan zonanya, dilihat dari alamat Kartu Keluarga hal tersebut ditentukan oleh dinas pendidikan provinsi. Hampir semua, alias 90 persen siswa harus berasal dari alamat yang satu zona dengan sekolah tersebut. Ada juga, jalur prestasi yang berasal dari alamat mana saja, tapi cuma 5 persen. Sedangkan sisa 5 persen untuk siswa yang pindah domisili. Sistem Zonasi berlaku di tingkat SD, SMP, dan SMA Negeri. Untuk SMK, tidak diberlakukan sistem ini. Hal ini katanya, agar tidak ada segelintir sekolah yang dianggap favorit dan jadi tujuan semua siswa.  Alasan lain, adalah agar semua siswa tertampung, tidak ada yang disisihkan.

Zonasi ini merupakan upaya pemerataan pendidikan. Karena yang mendapat nilai UN yang tinggi akan mengincar sekolah favorit. Sebaliknya, kemungkinan besar ada juga sekolah yang ujung-ujungnya menerima siswa dengan nilai cenderung minim. Alhasil, ada sekolah favorit dan non favorit.

“Semua sekolah harus jadi sekolah favorit. Semoga tidak ada lagi sekolah yang mutunya rendah,” ujar Pak Muhadjir Effendy.

Tapi menurut saya pribadi, saya tidak setuju dengan kebijakan tersebut, dan tidak hanya saya, banyak orang tua wali murid yang mengeluh mengenai kebijakan tersebut. 

Dengan kabijakan tersebut banyak siswa yang kecewa bahkan samapi menangis karena tidak diterima di sekolah yang mereka inginkan. Banyak juga omongan-omongan miring yang dilontarkan beberapa siswa. Saya pernah mendengar seorang anak bicara dengan orang tuanya "Ngapain aku belajar mati-matian dapat nem bagus, tapi akhirnya gak diterima disekolah itu, tau gitu aku gak usah belajar", sungguh miris saya mendengarnya. Saya tidak setuju dengan kebijakan yang menghilangkan sekolah favorit. Menurut saya jika ada sekolah favorit, itu akan menggugah siswa untuk belajar lebih giat untuk bersaing agar diterima di sekolah favorit tersebut. Tetapi jika kebijakan ingin mengubah semua sekolah menjadi favorit itu tidak mudah. Menurut saya pribadi, dengan melihat keadaan disekitar saya. Anak-anak siswa baru malah tidak semangat untuk sekolah bahkan belajar, karena tidak diterima di sekolah yang diinginkan. Hal itu malah memacu penurunan pendidikan Indonesia. Karena mereka yang pandai akan malas-malasan untuk belajar karena pikir mereka "Ah, aku kan pintar ngapain juga belajar, toh nilaiku bagus terus." Nah mulai dari itu mereka malah tidak ada keinginan untuk bersaing mendapatkan nilai yang baik. 

Akan jadi apa negara ini jika generasi muda kita tidak ada keinginan untuk maju? Sungguh sangat disayangkan. 

Saya sebagai warga negara berdoa, agar negara ini tetap maju. Bapak menteri tolonglah tengok ke bawah, apa rakyat senang dan menerima kebijakan yang dibuat? Apakah rakyat senang atau setuju dengan kebijakan tersebut? Saya sebagai orang awam hanya bisa mengutarakan keluh kesah rakyat.

Dan saya sebagai mahasiswa sosial politik akan belajar memahami kehidupan sosial politik di negara ini terutama disekitar saya dengan sebaik mungkin. Akan mendengarkan keluh kesah rakyat, agar dapat membuat kebijakan yang adil dan baik untuk kemajuan negara ini bila suatu saat nanti saya menjadi menteri. Menteri yang mengerti keadaan sosial politik di negaranya dengan membuat kebijakan yang menyenangkan dan memajukan rakyatnya.


Dengan hormat,

Rakyatmu 


Previous post     
     Next post
     Blog home

The Wall

No comments
You need to sign in to comment

Post

By Noor Azharul Hanifah
Added Aug 8

Rate

Your rate:
Total: (0 rates)

Archives