Surat Untuk Indonesia from Iklil Mara Abidyoga's blog

Sebuah surat yang ingin saya berikan kepada bangsa ini ialah “ Sadarlah!!! Indonesia butuh perubahan “. Indonesia bukanlah lagi negara kecil, kita tidak boleh memandang rendah lagi negara ini. Kita haruslah sadar bahwa kita adalah negara yang besar, memiliki 1.340 suku dengan Suku Jawa menjadi suku terbesar yang mencapai 41 % dari total populasi dan memiliki 1211 bahasa berdasarkan perhitungan BPS. Sudah tidak ada alasan lagi untuk menganggap negara ini kecil dalam hal populasi, tetapi kenapa bangasa kita sering dinggap negara yang kecil bahkan oleh penduduknya sendiri. Menurut data yang saya lihat, itu dikarenakan PDB yang kita hasilkan rendah. Tetapi miskin diera ini bukanlah hanya terlihat dari PDB yang bangsa ini hasilkan. Bangsa yang kecil adalah bangsa yang tidak mempunyai pemuda yang penuh dengan ide, kreativitas, inovasi, karakter dan mempunyai keinginan untuk membangun negara ini demi kepentingan masyarakat. Sudah jelas sekarang, negara ini tidak mungkin miskin karena memiliki pemuda seperti yang sudah saya paparkan. Masalahnya berikutnya adalah bagaimana pemuda zaman sekarang menyalurkan energi nya untuk negeri ini.

Oleh karena itu, pesan yang akan saya berikan berikutnya ditujukan untuk pemuda Indonesia ialah “ Saatnya kita beraksi !!! “. Mulai dari sekarang ini, kitalah yang memegang kunci dari kemunduran atau kemajuan bangsa ini. Jangan sampai kita lepaskan lagi kepada para penjajah negeri ini. Karena penjajah tidaklah berhenti saat Indonesia merdeka, penjajah selalu mengintai negara ini dan sudah kembali untuk menjajah negara kita. Mari mulai memaknai kembali apa arti kemerdekaan Indonesia, bahwa kemerdekaan bukanlah suatu puncak, melainkan merupakan titik awal perjalanan yang dihasilkan dari sebuah perjuangan tulus dari pahlawan pahlawan bangsa ini. Dan kitalah yang selanjutnya akan menjadi Pahlawan tersebut, memilih kunci kemajuan Indonesia, dan membuang jauh kunci kemunduran negeri ini.

 Pesan yang selanjutnya ingin saya berikan, saya tujukan untuk seluruh orang di Indonesia terutama bagi para pemimpin dan calon pemimpin bahwa Indonesia sudah tidak memerlukan kalian semua. Indonesia butuh masyarakat yang bermasyarakat dan kreatif, pemimpin yang jujur dan tulus membangun negeri, dan calon pemimpin yang berkarakter serta mendunia. Untuk masyarakat, pengalaman saya yang saya dapatkan sebagai orang Indonesia bahwa kebanyakan dari kita hanya memikirkan “saya” dari pada “kita semua” atau bahasa gaulnya yaitu “ Lo lo gua gua “ terlebih lagi dengan globalisasi yang menerpa bangsa kita saat ini. Perlu diketahui bahwa kita salah jika selalu mengkambing hitamkan globalisasi tersebut. Tidak ada yang salah dengan globalisasi, jika ada yang salah berarti kita yang perlu membenahi diri. Dengan menanggapi Globalisasi dalam bentuk solusi dan inovasi tentunya dengan menanamkan budaya kita, supaya budaya kitalah yang dapat terbawa globalisasi menuju ke penjuru di seluruh dunia ini. Yang berikutnya untuk para pemimpin, bahwa selalu ingatlah selalu ada kita sebagai tokoh rakyat yang selalu berjuang bersama dengan anda untuk mewujudkan janji janji anda. Sebagai pemimpin, anda hanya pelu untuk berada di jalan yang lurus dan benar. Berusahalah untuk selalu ingat kepada tuhan, kami sebagai rakyat tahu bahwa menjaga diri pada hawa nafsu itu sangatlah sulit bahkan sama seperti berjihad. Tetapi, anda lah yang sekarang ini terpilih, berarti anda sudah dipercaya oleh yang kuasa untuk memimpin negeri ini. Jika anda belum jujur anda hanya perlu jujur kembali atau jika anda belum amanah anda juga hanya perlu untuk menjadi pemimpin yang amanah kembali. Semua itu kembali kepada anda, kita rakyat hanya bisa merasakan karena dalam realitanya negara yang demokrasi ini keputusan terbesarnya masih ditangan para pemimpin bukan ditangan rakyatnya. Dilirik lagu ‘ Ayun Buai Zaman ‘ yang dipopulerkan oleh band Festivalist tertulis “ Lencana Kepemimpinan legitimasi kuasa, yang sejatinya mainan monyet saja, insting primitive hewani perias budaya sikat sikut ke puncak mercu kuasa, mati naas tertimpa berat perutnya…. “ Perlu kita pahami bahwa lirik tersebut menggambarkan situasi Indonesia saat ini, terbukti dengan banyaknya pemimpin yang tertangkap tangan oleh KPK dalam kasus korupsi. Selanjutnya untuk para pemuda,  jadikanlah 17 Agustus tahun ini menjadi momentum bagi kita semua untuk mulai bangkit dan berani mengekspresikan diri dalam membangun dan lebih mencintai negeri ini. Ingatlah pern pemuda di dunia ini sangatlah luar biasa. Layaknya kisah pemuda yang bernama Muhammad Al-Fatih dari Suku Ustmani yang berhasil menaklukkan dominasi Imperium Romawi yang sebelumnya selalu barat lah yang menjajah bangsa timur. Jadikanlah kita sebagai penerusnya yang mampu membawa negara ini ke era keemasannya dan mengakhiri penjajahan di Negeri yang kaya ini.


Previous post     
     Blog home

The Wall

No comments
You need to sign in to comment

Post

By Iklil Mara Abidyoga
Added Aug 8

Rate

Your rate:
Total: (0 rates)

Archives