Surat Untuk Indonesia from setyawidi rahayu's blog

Tinggal menghitung hari, tanah air tempat lahirku, tempat tinggal, dan tempat bernaungku bertambah satu tahun usianya. 72 tahun sudah bangsa ini terbebas dari belenggu penjajah, kemerdekaan, hari sakral, hari lahirnya indonesia. Melalui tetes keringat, darah bahkan ribuan nyawa terkorbankan untuk suatu kata 'kemerdekaan'.
Kini, negeri ini memang sudah merdeka, belanda atau jepang memang sudah tak lagi menjajahnya tapi itu bukan berarti indonesia dapat hidup nyaman tentram dan damai, karena sejatinya, mempertahankan kemerdekaan lebih berat bebannya dari mendapatkan kemerdekaan itu sendiri.
Kita bisa melihat satu tahun kebelakang misalnya, permasalahan dan isu yang menghantui negara ini hampir menghilangkan sifat sejati persatuan dan kesatuan. Keragaman budaya indonesia yang identik dengan perbedaan membuat warga negara ini sering beselisih konflik, ada yang menghina bahkan mencaci ragam budaya lain. Pembullyan juga kerap dilakukan oleh antara umat beragama, lebih parahnya mereka saling mencaci lewat media sosial dan kadang mengatas namakan tuhan. Agama, suku dan ras seolah menjadi benteng pemisah antara satu dengan yang lain.
Masalah kependudukan juga turut menghiasi indonesia setahun kebelakang. Tingkat kelahiran yang lebih besar daripada kematian membuat jumlah penduduk membludak. Lahan semakin sempit dan bertahan hidup semakin sulit. Sempitnya lapangan pekerjaan menambah daftar panjang mengakibatkan banyak penduduk usia kerja menganggur. Harga kebutuhan pokok dan bahan bakar naik terus menerus hingga si miskin harus mencari sisa makanan si kaya untuk bertahan hidup.
Kesenjangan dimana mana, pembedaan si miskin dan si kaya jelas terasa, pelayanan fasilitas umum yang seharusnya untuk semua tapi banyak si miskin yang jelas tidak mendapat perlakuan dengan baik. Kesehatan bahkan di kesampingkan oleh si miskin, anggapan 'si miskin tidak boleh sakit' alasannya, bantuan yang telah disediakan pemerintah tidak menjamin karena nyatanya banyak rumah sakit menomor duakan penduduk yang menggunakan kartu kesehatan. Bahkan ada rumah sakit yang tidak mau melayani pengobatan lewat kartu pemerintah, padahal rumah sakit tersebut merupakan bagian dari rumah sakit pemerintah.
Merambah ke lebih tinggi, masalah negeri ini bahkan sampai pada penjabat kepercayaan rakyatnya. Korupsi, seolah menjadi langganan dari tahun ke tahun, penjabat tinggi yang seharusnya memberantas pun ikut terjerat kasus ini. Iming iming mendapat uang banyak dengan cara instan pun menjadi alasan penjabat melakukannya, yang tentunya sudah di gaji pemerintah disertai fasilitasnya. Tega mengkhianati rakyat yang mempercayai mereka dan tentu yang lebih menderita dari mereka. Parahnya, hukuman yang di jatuhkan kepada pelaku korupsi tidak setimpal, penjara singkat dan hanya di denda uang membuat rakyat menjerit, dimana kata 'keadilan' yang di agungkan dalam sila kelima pancasila.
Peraturan yang dibuat seolah adalah hal yang patut di langgar bukan ditaati. Tidak mengherankan, jika banyak warga yang meniru perilaku buruk petingginya. Mulai dari hal kecil seperti pelanggaran lalu lintas, perusakan fasilitas publik, bahkan menjarah. Merampas hak orang lain. Dan masih banyak persoalan yang menjerat negeri ini.
Untuk menjelang 72 tahun negri ini berdiri saya berharap indonesia kedepan menjadi negeri yang lebih baik. Ketertiban, keamanan, keteraturan tercipta dari setiap sendi sudutnya. Tidak ada lagi kesenjangan antara si miskin dan si kaya, tidak ada penjabat korupsi, kerukunan umat beragama semakin kental dan tidak ada perselisihan, masyarakat sejahtera, juga persatuan dan kesatuan menjadi senjata kuat seperti ciri khas pejuang jaman penjajahan dulu.
Sebagai mahasiswa FISIP UNS, saya akan mewujudkan cita-cita diatas dengan cara sederhana terlebih dulu, seperti menghormati pemeluk agama lain dalam melakukan ibadah, tidak menghina sekelompok atau orang lain yang berbeda asal dari saya. Menaati peraturan baik di masyarakat dan lingkungan kampus sebagai bentuk kontribusi menciptakan suasana nyaman dan damai.

Sekian, terimakasih.

Previous post     
     Next post
     Blog home

The Wall

No comments
You need to sign in to comment

Post

By setyawidi rahayu
Added Aug 8

Tags

Rate

Your rate:
Total: (0 rates)

Archives