Surat Untuk Indonesia from Hana Devi Krismawati's blog


Seperti yang kita tahu, kita hidup di negara Indonesia tercinta ini. Negara berkembang yang seharusnya bisa menjadi besar dengan segala potensi yang ada, kekayaan alam melimpah, perkembangan teknologi pun tidak kalah, tinggal bagaimana cara kita mengolahnya. Walaupun begitu Indonesia bukan Negara tanpa masalah, walaupun secara militer sudah tidak terjajah, tapi degradasi mental membuat kita kalah, perekonomian yang semakin melemah, politik yang fungsinya sudah berubah, yang katanya “Bhineka tunggal ika” sekarang sudah terpecah belah, kehidupan sosial juga tidak tentu arah. Marilah secara rinci kita bedah, mengapa negara Indonesia tidak bisa menjadi negara adidaya.

Yang pertama namun menjadi pilar paling utama kesejahteraan suatu bangsa, Ya, Perekonomiannya. Untuk ukuran negara yang kaya alamnya, Indonesia belum mampu memaksimalkannya, terbukti belum mampunya pemerintah mengelola dan akhirnya berdampak pada perekonomian kita, barang yang harusnya bisa kita ekspor, kita malah mengimpornya. Beras contohnya, bukankah kita mendapatkan julukan “Negara Agraris”? kita mendapatkan julukan itu bukan tanpa alasan kan? Kita memilikki 8,8 juta hektar sawah secara nasional dan kita mengimpor beras? Lalu digunakan untuk apa sawah itu? Seharusnya dengan lahan sebegitu luasnya kita mampu memenuhi ketahanan pangan beras kita? Kembali lagi pada pengelola yang belum bisa memaksimalkannya, meskipun begitu kita patut berbangga karena kita juga menghasilkan barang ekspor ke berbagai negara.

Beralih ke masalah berikutnya, yaitu patahnya semangat Bhineka tunggal ika bangsa Indonesia. Katanya Indonesia bangsa yang saling menghargai antara ras, budaya dan agama, tapi entah mengapa terjadi selisih paham yang pada akhirnya membuat persatuan kita terpecah belah, kita ambil contoh perang antar suku, hanya untuk membela harka dan martabat suatu suku, mereka rela berperang, dan kadang orang tak bersalah menjadi korbannya, bahkan hanya masalah saling ejek berakhir dengan saling bunuh, Apanya yang bersatu? Kita malah seperti ayam yang mudah diadu. Kenapa tidak mengambil contoh di daerah Bargansiapiapi, disana hidup rukun antara suku Tionghoa dan bangsa Melayu, walaupun terjadi beberapa kali krisis hubungan antar suku, mereka mampu melewatinya, bahkan dalam beberapa perayaan mereka saling membantu suku lain supaya perayaannya berlangsung  meriah, “BUKANKAH BERSAHABAT ITU INDAH? JIKA BISA BERSAHABAT, MENGAPA SELALU BERSELISIH HEBAT?” Saya juga ingin sedikit menyinggung masalah yang masih segar di pikiran, yaitu ketika Bapak Basuki Tjahaya Purnama atau yang biasa dikenal sebagai Pak Ahok dituduh melakukan penistaan agama, entah benar dia melakukannya, atau hanya oknum oknum ekstrimis Agama yang tidak mau beliau menjadi pemimpin Ibukota, bukan saya membela satu dan yang lainnya, mungkin lama lama politik juga sudah meracuni Agama, tapi entahlah hanya Tuhan dan mereka yang tahu kebenarannya karena kita hanya bisa menerka nerka kejadian yang sebenarnya.

Masalah selanjutnya tak kalah penting, kehidupan tatanan sosial di Indonesia sangat kacau dan tak tentu arah, kesenjangan menjadi hal biasa dalam pandangan, kemiskinan menjadi hal yang biasa terlihat, pengangguran dan kejahatan, 2 hal yang saling berkaitan juga tak dapat diselesaikan, kemana para petinggi ketika rakyatnya membutuhkan? Bukankah mereka dipilih untuk memberi keadilan dan kesejahteraan? Tapi mengapa ketika rakyatnya membutuhkan mereka, mereka malah bertindak seolah semua baik baik saja? Mental miskin Indonesia membuat kesenjangan itu sendiri, ketika ada tunjangan, selalu saja ada yang salah sasaran, mengaku sebagai rakyat yang tidak memlikki apa apa, tapi nyatanya hidupnya hanya untuk berfoya foya, sadarlah saudaramu lebih membutuhkan daripada kamu, tunjangan bisa membuat hidupnya lebih baik, sementara untukmu itu tidak berdampak kalian para manusia kaya bermental miskin, jadi benahi diri mulai saat ini, daripada mengaku menjadi rakyat miskin, kenapa tidak kalian saja menjadi agen perubahan demi masyarakat yang sejahtera?

Degradasi mental para pemuda, sebagai penerus bangsa, sangat berpengaruh kepada majunya negara Indonesia, karena rasa nasionalisme lah yang membuat cita cita suatu bangsa dapat terwujud. Jika kita gambarkan, nasionalisme saat ini berada pada titik terendah, dimana semua kebijakan berkiblat pada neoliberalisme, sehingga kesejahteraan rakyat jauh dari cita citaFunding Father bangsa ini, moralitas pun ada di titik terendah, Korpusi bukan hanya menjadi bagian dari budaya, tapi telah menjadi mata pencaharian untuk mendapatkan tambahan biaya hidup yang tinggi. Lalu dimanakah para pemuda saat ini? Sebagai pelopor bangsa, dimana gaung-nya yang dulu? Pemuda sebagai sumber kekuatan moral reformasi perlu tetap terbina agar selalu berlandaskan pada kebenaran yang bersumber pada hati nurani serta sikap moral yang luhur, berkepribadian nasional dan berjiwa patriotisme.

Saya hanya ingin Indonesia ini tidak dipandang remeh oleh orang lain, kita harus mampu perlahan bangkit dari keterpurukan perekonomian, manfaatkan kekayaan alam semaksimal mungkin dan kita akan menjadi bangsa yang benar benar kaya, tingkat kan rasa memlikki antar sesama, dengan begitu Bhineka tunggal ika akan terus terjaga, dan tentu Indonesia akan utuh adanya tanpa perselisihan berarti, karena musyawarah adalah jalan penyelesaian yang paling hakiki, berhenti menjadi bermental miskin dan mulailah perubahanmu dari sekarang, mari bersama berantas kesenjangan. Dan yang terakhir mari tingkatan rasa nasionalisme kita wahai pemuda, jika bukan kita, siapa yang akan merubah wajah bangsa? Jika bukan kita, siapa yang mau mengharumkan nama Indonesia di mata dunia? Itu semua berada di tangan kita, jadi mari bersama bangun demi Indonesia yang lebih membanggakan.


Previous post     
     Next post
     Blog home

The Wall

No comments
You need to sign in to comment

Post

By Hana Devi Krismawati
Added Aug 7

Tags

Rate

Your rate:
Total: (0 rates)

Archives