Surat Untuk Indonesia from Kunti Dewi Kriswindayasti's blog

Surat ini ku tulis teruntuk Negara tempat dimana kau tinggal. Negara tempat dimana aku belajar, dan Negara dimana aku bangga menjadi warga negaranya. Negara Indonesia.

Indonesia. Siapa yang tidak mengenali Negara yang satu ini? Negara yang kaya akan rempahnya. Hingga berabad-abad membuat para koloni saling berebut. Negara yang terkenal akan luasnya lahan pertanian, sehingga kebanyakan masyarakatnya bekerja menjadi petani. Negara yang kaya akan lautnya, dan melimpah hasil perikanannya. Negara yang memiliki berbagai ragam budaya dari Sabang sampai Merauke bersatu apik dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Masyarakatnya yang sopan, santun, dan saling menghargai satu sama lain. Indah memang Negaraku ini, semua mata dari pelosok dunia tak henti memandang. Jadi bangga rasanya dapat dilahirkan di Indonesiaku ini.

Seiring waktu berjalan, mengapa jadi seperti ini? Indonesia menduduki posisi Negara terkorup di dunia? Indonesia menjadi sorotan dunia karena kasus hukum “tumpul keatas tajam kebawah”? Indonesia yang masyarakatnya terkenal saling menunjukan harmoninya menjadi saling menodong pisau? Banyak kasus terjadi dalam setahun kebelakang. Sedih rasanya, Negara kebanggaanku ini kini menjadi bahan olokan Negara sebrang. Mengapa Indonesia dapat menjadi Bandar narkoba terbesar di dunia? Katanya hukum di Indonesia transparan dan adil? Mengapa seakan-akan masyarakat Indonesia dengan mudahnya memperjual belikan barang illegal tersebut dan dengan mudahnya lolos dari jeratan aparat? Ya, kan hukum kita yang tajamnya kebawah. Kalau di atas apalagi punya duit, hukum jadi bebas. Kemudian, Indonesia menjadi Negara dengan perpecahan terbesar. Loh? Padahal masyarakatnya saja memiliki semboyan berbeda-beda tetap satu jua. Lalu kenapa perbedaan-perbedaan tersebut menjadi akar permasalahan selama ini? Memang sih, Indonesia masyarakatnya terbaik dan terpelajar tapi masalahnya, mereka hanyalah malas. Malas untuk mencari tahu. Malas untuk membaca, dan malas untuk bergerak. Sehingga banyaknya berita simpang-siur pemicu perpecahan dengan sangat mudah membakar para pemuda menjadi egois, lebih lagi anarkis.

Sebentar lagi Indonesia memasuki tahun ulang tahunnya, 17 Agustus 2017. Berapa usianya? 72 Tahun. Lebih tua setengah abad dariku. Teruntuk kalian warga Negara Indonesiaku tercinta,  Para generasi lanjut dan generasi muda, bangga kalian tinggal di Negara bobrok seperti ini? Aku sih enggak. Lalu kenapa kalian diam saja? Ayo. Kita sebagai warga Negara Indonesia, berubahlah, bergeraklah, dan berharaplah. Indonesia bisa menjadi lebih baik jika kita semua berani untuk berubah. Hapuskan kerakusan diri kalian, tengoklah kebawah para rakyatmu masih kelaparan. Hilangkan sikap egois kalian. Karena dengan berjabat tangan semua akan terlihat lebih indah. Bukalah cara berpikir kalian. Karena semua orang berhak berpendapat, karena dirimu juga kadang memiliki kesalahan. Berikanlah harapan terbaikmu bagi Negara ini. aku ingin Indonesia dikenal seperti dahulu, Negara konglomerat dan rendah hati. Aku ingin semua sandiwara golongan atas terbuka kedoknya. Agar semua dapat mengerti siapa sosok dibalik topeng itu. Aku ingin Indonesia menjadi Negara yang dapat menjadi tempat tinggal yang layak untuk seluruh warga negaranya dengan menjamin hak dan kebutuhan hidup masyarakatnya. Kurangkai doa dan harapanku, untuk negriku ini.

Memang aku hanyalah seorang mahasiswi yang masih seumur jagung. Tapi, aku akan membuktikan, secercah harapan kecil akan menjadi besar jika kita terus berusaha. Lalu apa yang akan kulakukan? Aku akan menyelesaikan studiku dengan baik. Aku akan membuat generasi muda membuka mata akan pentingnya nasib Negara ini kedepannya. Setelah studiku selesai. Aku siap mengabdi pada Negara dengan sepenuh hati. Bekerja dengan bersih dengan hati. Aku harus bisa merubah opini yang salah dalam masyarakat. Negara kita akan maju jika dipimpin oleh orang yang tinggi jabatannya, itu salah. Negara kita akan hebat dan tangguh jika kita semua berdiri, saling merangkul untuk mempimpin Negara kita bersama-sama dengan transparansi tanpa batas.



Satu Huruf, 2017


Previous post     
     Next post
     Blog home

The Wall

No comments
You need to sign in to comment

Post

By Kunti Dewi Kriswindayasti
Added Aug 6

Rate

Your rate:
Total: (0 rates)

Archives