SURAT UNTUK INDONESIA from eugenia prasmadena tapianauli rahayu pitaloka's blog

Surakarta, 8 Agustus 2017

 

Yth. Negara Indonesia

 

Halo Indonesia, aku adalah seorang penduduk Indonesia yang selama 18 tahun sudah dibesarkan dari hasil-hasil pangan negeri. Kekayaanmu yang sangat melimpah membuatku selama ini berkecukupan. Sawah-sawahmu yang luas dan menghasilkan bulir-bulir padi yang bernas untuk mengenyangkan anak-anak negeri.  Keindahan tempat-tempat yang terbentuk secara alami memberiku perasaan bangga menjadi anak negeri ini, yang banyak negeri lain tidak punya tetapi negeriku Indonesia punya, yang tak habis untuk dieksplor hanya dalam waktu sehari. Kamu sangatlah mempesona, pesonamu itu membuatku ingin pulang sejauh apapun aku melangkah. Padang rumput menghijau manis, gemericik air di sungai terdengar halus, mencipta indah alam desa membuat jiwa semakin teduh. Memandang gunung dan danaumu, segala lekuk bahkan tiap sudutmu membuat segala gundah ini meluruh.

Hutan-hutan yang rimbun dan berdiri dengan kokoh menjadi rumah bagi fauna-fauna negeri. Menjadi sebuah keirian seharusnya bagi negeri lainnya yang faunanya tidak sekaya Indonesiaku.  Tanah airku, meski kamu melihatku diam, sesungguhnya aku sangat sakit saat kamu dirusak. Aku tahu kamu menderita. Banyak kutu-kutu yang menempel di tubuhmu. Mereka menggerogotimu. Sampai kamu tercabik-cabik. Ah, darahku naik ke ubun-ubun mengingat itu. Rasanya ingin kutokok saja kepalanya kutu-kutu parasit itu. Kamu memang lemah dan miskin. Maaf, aku tak bermaksud menghinamu. Tapi itu memang benar. Salah dirimu kah itu? Tidak. Mereka yang membuatmu miskin, mereka yang menggorogoti amunisimu. Korupsi, bencana, terorisme, dan sederet luka yang lain. Bagaimana rasanya? Sakit. Itu pasti. Itu bukan salahmu. Itu salah kami yang tak bisa merawat dan membiarkanmu terluka. Salah kami yang selalu apatis. Salah kami yang membuang sampah sembarangan. Salah kami yang menebangi pohonmu, salah kami yang menerobos lampu merah, salah kami yang memberhentikan angkot sesuka hati, salah kami yang tidak giat belajar, salah kami yang terlalu banyak bermain dan tak peduli padamu. Kami yang seharusnya Bhinnekka Tunggal Ika, mementingakan idealisme golongan kami sendiri. Membeda-bedakan golongan lain yang sebenarnya sama hak dan kewajibannya dengan kami hanya karena ajaran agama dan ras yang tidak sama. Menuduh, memfitnah, bahkan membuat keributan hanya untuk memecah dan memecah lagi orang-orang yang sebenarnya tidak mengerti apapun menjadi ikut-ikutan membenci golongan lain. Dimana orang-orang jujur menjadi musuh golongan banyak. Dimana orang yang membawa perubahan justru difitnah supaya orang-orang yang sudah ada di zona nyaman tetap berada disana menguras apa-apa yang ada didalam negeri ini. Miris. Tapi memang begitu adanya. Padahal, jauh dari tahun sekarang, orang-orang negerimu adalah orang-orang yang menjunjung tinggi toleransi, dimana perbedaan menjadi bumbu-bumbu manis dalam tali persaudaraan. Tapi lihat, zaman dan pengaruh teknologi membuat kami menyebarkan paham ataupun sesuatu yang memecah bangsamu. Tertawa di belakang bersama golongan apabila berhasil memfitnah orang lain. Tertawa lepas apabila berhasil menebarkan paham-paham radikal. Banyak dari mereka yang mengatasnamakan kepentingan agama diatas kepentingan golongan mereka sendiri. Aku bahkan tidak habis pikir mengapa mereka tega melakukan itu semua. Apa mereka sudah bosan hidup dalam kedamaian? Apa mereka sudah muak dengan persatuan yang sudah dipupuk sejak lama? Ah, hanya mereka yang tau.

Aku berharap agar orang-orang negerimu sadar, bahwa tidak ada yang lebih indah selain persatuan dan kedamaian. Aku berharap mereka sedikit-sedikit mulai sadar untuk tidak mementingkan kepentingan pribadi maupun golongan, tetapi mulai memikirkan kepentingan orang banyak. Mulai memperkuat iman agar tidak menerima suap bentuk apapun. Pelajar-pelajar yang mulai krisis kejujuran sedikit-sedikit mulai timbul rasa malu apabila mereka berniatan menyontek. Pemerintah mulai memaksimalkan kinerjanya dalam pembangunan, agar orang-orang negerimu yang krisis kepercayaan terhadap pemerintah mulai mengembalikan kepercayaan yang penuh bahwa pemerintah mampu dan sanggup menjadi pemerintah yang mengayomi. Mungkin terdengar sulit untuk terkabul, tetapi aku percaya aku dan segelintir orang di luar sana juga ingin Indonesia menjadi seperti itu. Meskipun mungkin butuh waktu yang lama, aku percaya nanti akan ada waktunya seperti itu. Sabar dulu ya,Indonesiaku.

Aku menulis disini sebagai mahasiswa ilmu sosial dan ilmu pengetahuan yang ingin mengambil sedikit, sedikit saja bagian untuk menjagamu. Aku hanya bisa membuang sampah pada tempatnya, tidak menyebarkan fitnah-fitnah yang membahayakan kesatuanmu. Hanya bisa mengingatkan sesama untuk selalu berhati-hati dengan berita-berita berbau hoax yang menuduh pihak sana-sini. Hanya bisa tidak menyontek saat ujian. Hanya bisa melaksanakan peraturan pemerintah dengan tertib juga mengamalkan nilai-nilai dari Pancasila setiap harinya. Hanya bisa berkelakuan baik dengan harapan sedikit orang yang meniru kemudian semakin banyak yang meniru. Semoga dengan mahasiswa baru ilmu sosial dan pengetahuan membuat kami menjadi sosok yang pantas ditiru untuk sesama. Syukur-syukur menjadi sosok perubahan dalam sesama.

Terimakasih Indonesia, jayalah selalu!

Eugenia, 18 tahun, mahasiswa yang sedang belajar hal apapun.


Previous post     
     Next post
     Blog home

The Wall

No comments
You need to sign in to comment

Post

Tags

Rate

Your rate:
Total: (0 rates)

Archives