MY PKKMB MISSION from Aditya Dwinda Pratama's blog

Hello!! Saya Aditya Dwinda Pratama yang bisa dipanggil Dwind. Berasal dari suku Sunda yang hidup bersama suku Jawa. Saya hadir ke dunia pada 25 Desember 1999 yang telah melalui kehidupan menerjang persaingan sekolah dasar, sekolah menengah dan akhirnya berhasil melalui lika liku suka dan duka di sekolah menengah atas.


    Kelulusan SMA tidak meninggalkan kebebasan, banyak kebebanan yang kami terima untuk menentukan jalan ke masa depan. Sebagian dari kami memilih untuk segera berjuang membanting tulang, sebagian yang lain memilih untuk kembali menjadi murid di kancah perguruan tinggi. Pilihan kembali menjadi momok bagi para pejuang masa depan, mulai dari kedinasan atau perguruan tinggi, PTN atau PTS, PTN mana hingga jurusan mana agaknya menjadi tekanan yang terus menguras pikiran. Dahulu dengan hati yang gundah saya menetapkan HI Fisip UNS menjadi pilihan pertama SNMPTN bagi saya. Hati terus gundah mengingat saya yang lulusan IPA, namun itu juga tidak menjadi motivasi bagi saya agar belajar untuk tes lainnya, doa dan ketenangan menjadi obat tersendiri yang kini telah terbayar.
    PTN BH Merupakan Perguruan Tinggi Negeri yang didirikan oleh pemerintah yang berstatus sebagai badan hukum publik yang otonom. Penetapan sebuah PTN dapat menjadi PTN BH dilakukan oleh pemerintah dengan persyaratan masuk dalam 9 besar peringkat universitas di Indonesia dan memiliki akreditasi-A. PTN BH selaku badan hukum yang otonom dapat membuka ataupun menutup suatu program/prodi dengan bebas. PTN BH yang karena merupakan badan hukum publik yang otonom memiliki tambahan kebebasan dalam menambah pemasukan PTN untuk keperluan akademik maupun non akademik. Dari situ kita bisa mengerti apa keunggulan PTN BH dibanding Badan Layanan Umum yang tidak bisa membuka atau menutup program semaunya. Dari segi positif dan negatif PTN BH memiliki keluasan otonom yang memberikan keleluasan PTN untuk merubah dan merombak baik akademik maupun non akademik, sehingga PTN dapat lebih untuk berkembang menyesuaikan tuntutan zaman dan budaya masyarakat. PTN BH juga memiliki keleluasaan untuk mengkomersilkan dirinya berbeda dengan PTN BLU yang hanya memiliki wewenang atas akademiknya saja. Namun PTN BH yang karena memiliki otonom yang luas membuat dirinya tidak terbuka bagi semua orang, seolah bagai orang kaya sombong yang hanya menolong ketika mereka mau. Tarif mahal tentu menjadi momok yang memakutkan bagi warga kelas menengah kebawah untuk mengais ilmu dalam menempuh pendidikan tinggi. Budaya orang orang terdidik juga akan berubah oleh globalisasi mengingat siapa saja yang menjadi penduduk perguruan tinggi. Kehidupan kampus akan mengalir mengikuti tuntutan penduduk.
Namun positif negatif tersebut merupakan sebuah gambaran yang mungkin bisa berlaku. Tentu, PTN memiliki kebijakan tersendiri dalam menghadapi hal hal tersebut karena kita tahu bahwa PTN juga dikelola oleh manusia manusia yang sama seperti kita.


     Next post
     Blog home

The Wall

No comments
You need to sign in to comment

Post

By Aditya Dwinda Pratama
Added Aug 4

Rate

Your rate:
Total: (0 rates)

Archives