Jika Aku Menjadi Pemimpin from Tiara P. Mayzati's blog

Cara terbaik untuk melatih jiwa kepemimpinan adalah dengan menerapkannya dalam prinsip hidup yang kita jalani. Prinsip berupa teori yang dilandasi niat, dan di dalam teori ada pengandaian. Pengandaian yang rasional dapat memacu kita untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan mempertimbangkan prioritas. Oleh karena itu, niat membentuk jiwa kepemimpinan dimulai dari angan-angan kita sendiri.

Jika aku menjadi pemimpin, dalam konteks seorang pemimpin yang mengampu hajat hidup orang banyak, aku akan memfokuskan kinerjaku pada 3 hal yang menurutku paling krusial.

Pertama, aku akan mengukuhkan pondasi pendidikan. Sistem yang kita miliki sekarang bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan. Ya, kita punya silabus yang sempurna, pengajar yang berkualitas, dan standar kompetensi yang tinggi. Namun tiada gading yang tak retak. Dengan sistem yang sedemikian rupa, kita masih tetap nol dalam hal pemerataan. Kelak, daerah 3T (Tertinggal, Terluar, dan Terdepan) akan menjadi sasaran perbaikan utama.

Kedua, aku akan memastikan kalau setiap orang yang bernaung di bawah payung hukum negaraku diperlakukan secara adil dan setara. Seperti yang tercantum dalam Pasal 2 UU No. 39 th 1999 tentang Hak Asasi Manusia: “Negara Republik Indonesia mengakui dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kebebasan dasar manusia sebagai hak yang secara kodrati melekat pada dan tidak terpisahkan dari manusia, yang harus dilindungi, dihormati, dan ditegakkan demi peningkatan martabat kemanusiaan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan kecerdasan serta keadilan.”

Diskriminasi dan sikap intoleran akan ditentang habis-habisan. Setiap warga negara dalam menyikapi segala hal berhak menentukan pilihannya masing-masing dan merasa aman terhadap semua pilihan yang diambil. Rasisme dan konflik berbau SARA tidak segan-segan akan dimejahijaukan.

Ketiga, usaha menunjang sumber daya. Sumber daya alam dan sumber daya manusia harus berjalan secara beriringan. Problematika yang paling kentara dalam masalah sumber daya yang kita hadapi saat ini adalah ketimpangan. Lagi-lagi soal porsi. Sumber daya alam yang melimpah tidak diimbangi dengan kemampuan sumber daya manusia untuk mengelolanya. Akibatnya, negara kita menjadi ladang eksploitasi yang begitu subur bagi negara-negara adidaya.

Sebagian besar rakyat kita masih hidup di bawah garis kemiskinan. Kekayaan alam yang seharusnya dapat dinikmati untuk kemakmuran rakyat, justru memberikan keuntungan besar bagi kapitalis asing. Sebuah ironi, karena justru realita berkontradiksi dengan isi konstitusi dasar negara ini. Dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 3 disebutkan bahwa: “Bumi dan air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”

Menurut data Wahana Lingkungan Hidup, saat ini negara kita berada pada peringkat ke-6 sebagai negara produsen cadangan emas terbesar di dunia, peringkat ke-5 dalam produksi tembaga dan bauksit, penghasil timah terbesar kedua setelah Cina, eksportir batubara dan nikel terbesar kedua di dunia setelah Australia, eksportir gas alam bersih (LNG) terbesar di dunia, dan eksportir terbesar gas alam cair setelah Qatar dan Malaysia. Selain itu, negara kita memiliki 60 ladang minyak dengan cadangan sekitar 77 miliar barel minyak dan 332 triliun kaki kubik gas. Hal ini menunjukkan bahwa volume dan kapasitas sumber daya alam yang kita miliki seharusnya benar-benar cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Poin tersebut akan digarisbawahi agar mutlak terealisasi.

Dalam performa kerjaku, selain memfokuskan diri pada tujuan yang hendak dicapai, Falsafah Tri Brata akan kujadikan acuan untuk menentukan sikap. Falsafah ini memiliki tiga prinsip: rumongso melu handarbeni (merasa ikut memiliki), wajib melu hangrungkebi (wajib ikut membela dengan ikhlas), dan mulat sariro hangrasa wani (mawas diri dan memiliki sifat berani untuk menegakkan kebenaran).

Terakhir, jika aku menjadi pemimpin, aku tidak akan menjual iming-iming bualan demi kekuasaan. Kebersihan lisan adalah hal paling berharga yang bisa dimiliki oleh seorang pemimpin, dan aku hendak menjadi salah satu diantaranya.

 

***


     Next post
     Blog home

The Wall

No comments
You need to sign in to comment

Post

By Tiara P. Mayzati
Added Aug 3

Rate

Your rate:
Total: (0 rates)

Archives