Jika Aku Menjadi Pemimpin from Alfado Jacob Sabarwan's blog

Jika aku menjadi pemimpin

 

Saat saya kecil , saya tidak paham apapun tentang pemimpin. Memahami konsep kepemimpinan berawal dari interaksi kita dengan orang tua. Kita dikenalkan dengan kehidupan, dinasehati bila berbuat salah dan dihukum jika kita ngeyel. Tokoh pertama yang kita kenal, yang menanamkan nilai-nilai dasar adalah orang tua kita.

 

Definisi kepemimpinan mengacu pada suatu arti, yaitu kepemimpinan adalah dimana ada seseorang yang berpengaruh dan mampu mengarahkan subordinat (pengikut) kepada suatu tujuan yang ingin dicapai. Untuk memperoleh hasil yang diharapkan ada banyak cara untuk menjadi berpengaruh kepada pengikut. Adolf Hitler, ia menggunakan orasi sebagai senjata untuk mengarahkan idealisme jutaan orang menjadi sama dengan idealismenya. Ia berhasil mempengaruhi pikiran berjuta-juta orang untuk membenci kaum Yahudi. George Washington, berhasil memenangkan perang revolusi dan memerdekakan Amerika Serikat. Abraham Lincoln, Presiden ke-16 Amerika Serikat, tewas ditembak di sebuah gedung teater.

 

Abraham Lincoln, pendukung kesetaraan antara kaum kulit hitam dan kulit putih, ia tidak setuju dengan pemisahan fasilitas bagi orang kulit hitam dan kulit putih. Ia berfikir dan ia benar bahwa tidak seharusnya orang dibedakan atas dasar warna kulit. Tetapi ia dibunuh oleh “white supremacist” yang tidak setuju dengan pikirannya. Apakah ia gagal sebagai seorang pemimpin? Kesuksesan sebuah kepemimpinan diuji waktu, Lincoln mempunyai gagasan yang benar dan lihatlah Amerika sekarang ini yang tidak ada pembedaan manusia berdasar ras. Ia tidak gagal.

 

Kejujuran adalah hal yang utama menjadi seorang pemimpin, jujur kepada pengikut sangatlah penting, apalagi jujur terhadap diri sendiri. Ya, jujur terhadap diri sendiri sangatlah penting, saya yakin pasti ada keragu-raguan dalam hati Abraham Lincoln (walaupun dalam persentase sedikit) atas gagasannya tentang kesetaraan. Bisa saja ia hanya akan mendengarkan suara orang banyak supaya ia disukai rakyatnya. Tetapi tidak, ia tidak membiarkan ia membohongi dirinya sendiri, ia mempunyai gagasan yang kuat yang timbul dari hati nuraninya untuk tidak membedakan orang kulit hitam dengan kulit putih dimana dirinya sendiri adalah orang kulit putih. Ia mempunyai suatu konsep dengan konsistensi dalam setiap tindakan-tindakan, nilai-nilai, metode-metode, ukuran-ukuran, prinsip-prinsip, ekspektasi dan berbagai hal yang dihasilkan, ia berkarakter kuat dan jujur. Istilah yang tepat untuk sikapnya adalah integritas.

 

Ini yang saya lakukan jika saya menjadi seorang pemimpin. Saya akan menjunjung tinggi integritas saya, meskipun saya tahu untuk menjadi seseorang yang mempunyai integritas yang teguh memang tidak mudah, pasti akan ada banyak orang yang ingin menjatuhkan karena alasan-alasan politisnya. Tetapi saya tidak akan membohongi diri saya sendiri, saya akan jujur terhadap diri saya sehingga tidak jatuh pada permainan-permainan kotor tikus-tikus pemerintah.

 

Pemimpin adalah seorang panutan yang memberi contoh kepada anak buahnya, bukan seperti boss yang hanya memerintah anak buah tanpa menjadi panutan. Ini yang mau saya lakukan jika saya menjadi seorang pemimpin. Saya tidak mau kehadiran saya di dalam kelompok menjadi pemimpin yang “bossy” tetapi saya mau menjadi pemimpin yang merangkul setiap anak buah saya sehingga kami berhasil mewujudkan cita-cita bersama.

 

Jadi hal-hal inilah yang menjadi dasar saya untuk menjadi pemimpin, mulai dari mempertahankan idelalisme yang benar dan tidak mau dimanipulasi oleh apapun, jujur terhadap anak buah dan terlebih penting terhadap diri sendiri, memiliki integritas sebagai pemimpin mempunyai prinsip dan nilai-nilai yang konsisten serta menjadi panutan bagi anak buah bukan menjadi pemimpin yang “bossy”.


     Next post
     Blog home

The Wall

No comments
You need to sign in to comment

Post

By Alfado Jacob Sabarwan
Added Aug 1

Rate

Your rate:
Total: (0 rates)

Archives