User blogs

Tag search results for: "#pkkmbfisip"
Anggota :
1. Kunti Dewi Kriswindayasti
2. Mutiara Tsani Rosyida
3. Muhammad Ikhsanul Amin
4. Charisma Budi Pratomo
5. Ferika Yohanida Anzilinni'mah
6. Khansa Qonita
7. Tifani Sasnila Silitonga
8. Nabilla Sekar Ningrum
9. Miratul Umam
10. Dinda Pramitha Shaila Putri
11. Asri Sherenia Savitri
12. Satrio Punto Wibisono
13. Muhammad Raharditya Athafira
14. Hendrico Gardatama
15. Novenda Hijrah Nugraheni Pramukti
16. Zidhane Khasbul Wafii
17. Sindu Damais

kakak pendamping : Ardhia Mafaza

tentang pasar klewer:
Pasar klewer yang beralamatkan di Jl. Yos Sudarso No.305, Danukusuman, Serengan, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57155 adalah salah satu pasar tradisional di kota Solo, pasar ini salah satu pasar yang sering dikunjungi oleh banyak orang dari dalam maupun luar solo. kebanyakan orang yang berkunjung disini adalah orang yang ingin berbelanja grosir karena harga di pasar ini cenderung murah. pasar ini salah satu urat nadi perekonomian masyarakat solo

Sejak dahulu bangsa Indonesia dikenal sebagai Negara yang majemuk. Hal ini tercermin dari semboyan “Bhinneka tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Kemajemukan yang ada terdiri atas keragaman suku bangsa, budaya, agama, ras, dan bahasa. Meskipun demikian kita tetaplah satu yaitu INDONEISIA. Di umur ke 72 ini Indonesia telah mengalami berbagai macam masalah, mulai dari masalah ekonomi, politik, bahkan sosial budaya.

Salah satu contoh masalah rumit yang tak kunjung terselesaikan adalah korupsi. Setahun belakangan ini kasus korupsi di Indonesia semakin meningkat. Berdasarkan data KPK, jumlah perkara korupsi yang melibatkan BUMN/BUMD mencapai 11 kasus pada 2016. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan tahun 2015 yang hanya 5 kasus.

Salah satu yang hangat diperbincangkan adalah kasus dugaan korupsi pengadaan proyek e-ktp. Selama tahun 2016, KPK melakukan sejumlah penyitaan di kasus dugaan korupsi pengadaan proyek e-KTP. Barang yang disita berupa uang kas atau rekening dengan jumlah total Rp 247 miliar. Kasus ini telah bergulir bertahun-tahun dan belum ada seorang tersangka pun yang diajukan ke pengadilan. KPK saat ini berkomitmen untuk menyelesaikan tunggakan kasus-kasus lama, termasuk kasus ini.

Dalam kasus e-KTP, KPK sudah menetapkan 5 tersangka. Keempat orang itu adalah mantan Dirjen Dukcapil Kemendagri Irman, mantan pejabat pelaksana komitmen proyek e-KTP Sugiharto, pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong, Ketua DPR RI Setya Novanto, dan politikus Partai Golkar Markus Nari. Saat ini, KPK sudah memvonis dua tersangka, yakni Irman dan Sugiharto. Irman dan Sugiharto masing-masing divonis 7 tahun dan 5 tahun penjara. Keduanya juga didenda masing-masing Rp500 juta subsider 6 bulan kurungan dan denda Rp400 juta subsider 6 bulan kurungan. Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi menyatakan Irman dan Sugiharto terbukti bersalah melanggar Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Keduanya terbukti memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi sehingga menyebabkan negara rugi Rp2,3 triliun.

Saat saat ini Indonesia bukan lagi berperang melawan penjajah, merebut senjata, mempertaruhkan nyawa dan sebagainya. Namun saat ini kasus yang melibatkan orang dalam, warganya sendiri juga perlu perhatian. Kerusakan yang terjadi di Indonesia bukan hanya dari luar, namun juga dari ulah warganya sendiri yang kurang mencintai Negara ini.

Sikap dan mental warga Indonesia harus di didik dan di pupuk mulai dari kecil. Tanamkan rasa cinta kepada tanah air tercinta ini mulai dari diri kita sendiri. Dan tidak lupa untuk tetap memegang teguh keyakinan dan ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan keyakinan masing masing. Hal ini harus kita bangun untuk kemajuan Indonesia. Indonesia sebagai Negara kesatuan sudah seharusnya bersatu padu untuk menggapai cita cita luhur para pahlawan. Mereka rela mempertaruhkan nyawa mereka untuk memperebutkan tanah air demi bangsa agar dapat hidup dengan damai di negri ini.

Indonesia memiliki potensi seperti memilki pulau yang begitu banyak yang sehingga disebut negara kepulauan, Indonesia memiliki garis pantai kedua terbesar di dunia, Indonesia memiliki pertambangan emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia (PT. Freeport), cadangan gas alam terbesar di dunia, mempunyai hutan tropis terbesar di dunia, lautan terluas di dunia, dan lainnya. Begitu banyak potensi negeri ini yang seharusnya jika dikelola dengan baik dan bijaksana maka Indonesia dapat menjadi negara terhebat di dunia.

Dan saya sebagai seorang mahasiswa yang telah yang memilih jurusan rumpun sosial politik, akan berusaha semaksimal mungkin untuk belajar demi kemajuan keadaan sosial politik di Indonesia agar tujuan dan cita cita bangsa Indonesia dapat terwujud. Yang diperlukan Indonesia saat ini adalah kesatuan antar masyarakatnya. Dengan kita bersatu maka kita akan kuat untuk melawan segala bentuk ancaman dan masalah baik itu dari luar maupun dalam negeri kita sendiri. Dengan semangat kesatuan dan persatuan yakinkan diri dan bulatkan tekad untuk merubah Indonesia menjadi sebuah Negara yang lebih baik kedepannya.

Indonesia, negara yang kaya akan sumber daya alam, budaya, adat istiadat dan masih banyak lagi. Jika kita lihat dari sisi sumber daya alam, sumber daya alam Indonesia sangat melimpah, mulai dari sektor pertanian, peternakan, pertambangan, perhutanan, perikanan, pembangunan dan masih banyak lagi. Namun, apa kenyataannya? Sumber daya alam yang sangat melimpah tidak diimbangi dengan sumber daya manusia yang mendukung. Mau dibawa kemana negara ini? Tidakkah mereka berpikir sumber daya alam itu sangat dibutuhkan untuk generasi yang akan datang? Bagaimana nasib generasi muda selanjutnya jika kekayaan yang Indonesia miliki saat ini tidak dijaga dengan bijak? Tentu kita sudah dapat membayangkannya bukan? Apalagi, saat ini arus globalisasi berkembang sangat pesat, jika pemerintah tidak segera menyadarkan masyarakat tentang betapa pentingnya menjaga sumber daya alam, yakinlah sumber daya alam yang kita miliki akan habis dinikmati oleh bangsa asing. Indonesia sebenarnya mempunyai potensi besar untuk menjadi negara maju karena sudah didukung dengan sumber daya alam yang melimpah. Hal ini bisa terwujud jika pemerintah dan masyarakat mau bekerja sama untuk Indonesia yang lebih baik.

            Masalah yang dihadapi Indonesia tidak hanya berada pada masalah sumber daya alam, namun akhir-akhir ini politik di Indonesia sedang dirundung masalah akibat ketidakadilan aparat pemerintah yang menyalahgunakan kekuasaannya, dimana para pejabat banyak yang korupsi, tidak melaksanakan kewajibannya secara penuh dan tidak bertanggung jawab atas amanat yang sudah diberikan kepada mereka. Kemana janji manis pejabat negara yang mereka ucapkan ketika kampanye pemilihan? Tidakkah mereka berpikir bahwa mereka dipilih oleh rakyat karena dipercaya dapat mengubah Indonesia ke arah yang lebih baik dan sedikit demi sedikit dapat mengatasi serta mengurangi masalah yang dialami oleh Indonesia? Bukankah Indonesia merupakan negara yang berasaskan demokrasi? Asas dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Meskipun begitu, kenyataanya asas demokrasi tersebut tidak berjalan dengan baik dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Masih banyak aparat negara yang memutuskan kebijakan tanpa mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan dan tidak menghiraukan aspirasi rakyat tentang penderitaan yang mereka alami.

            Tidak terasa tinggal menghitung hari menuju Indonesia genap berumur 72 tahun. Dengan surat untuk indonesia ini, saya berharap bisa satu langkah lebih dekat dengan Indonesia tercinta. Harapan saya untuk Indonesia di tahun ke-72 ini, semoga Indonesia dapat menjadi negara yang tidak hanya bergantung pada negara lain dan satu langkah lebih maju dari keadaan yang sebelumnya. Selain itu, saya juga berharap semoga para pejabat segera disadarkan akan tanggung jawab yang mereka emban sangatlah berat, karena mereka harus memikirkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

            Peran yang ingin saya ambil sebagai mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret adalah menjadi mahasiswi tangguh yang kuat mental dan bertanggung jawab atas tugas yang diemban. Selain itu, setelah saya lulus dari Universitas Sebelas Maret ini saya berkeinginan untuk menjadi aparat pemerintah yang bertanggung jawab serta berkarakter yang mana pemerintah itu mau mendengarkan dan menampung aspirasi rakyat, sehingga hak rakyat untuk berpendapat dapat terpenuhi. Dengan begitu, harapannya kehidupan rakyat menjadi sejahtera dan segala hak serta kewajibannya dapat terpenuhi tanpa adanya ketidakadilan. Semoga dengan peran yang saya ambil ini, dapat menjadikan Indonesia lebih baik dan selangkah lebih maju menuju Indonesia yang sejahatera, adil, dan makmur. 

Dear Indonesia,


            Aku adalah salah satu dari 261.000.000 (Dua Ratus Enam Puluh Satu Juta) Jiwa di dirimu. Sudah 18 tahun 7 bulan aku tinggal di Indonesia. Aku ingin mengucapkan banyak terimakasih untukmu Indonesia. Banyak sekali hal yang kualami selama itu, dari duka maupun suka. Banyak hal menarik yang ada di Indonesia, dari budayanya, sukunya, bahasanya, makanannya, orang-orangnya, dan lain-lain. Dari kebergamanmu itu, tak jarang menyebabkan munculnya hal baru yang tentu menambah keberagamanmu yang membuat Indonesia menjadi lebih menarik. Banyak hal yang aneh dan unik juga ada di Indonesia, dari Bahasa gaul yang terus bertambah, makanan – makanan hits baru, retoran yang ramenya cuma di awal, jalan satu arah jadi dua arah, jalan dua arah jadi satu arah, penghina Pancasila jadi duta Pancasila, orang yang sok ngaku jendral jadi duta narkoba, dan masih banyak  banget lah keunikan dan keanehan mu. Tapi itu yang membuat dirimu berbeda dengan negara lainnya. 


          Banyak suku dan budaya dengan semboyan”Bhineka Tunggal Ika” tak dapat bertahan lama di dalam dirimu. Entah apa yang membuatnya pudar sedikit demi sedikit, waktu demi waktu, terpecah dan terbelah dengan menjunjung tinggi nilai kelompok masing dan seakan memandang kelompok atau golongannya lah yang paling sempurna. Sangat disayangkan mengingat perjuangan para pahlawan untuk memperjuangkan dirimu. Namun, nilai akan perjuangan itu seakan sudah tidak dianggap lagi oleh generasi sekarang. Fenomena-fenomena aneh mulai bermunculan di dalam dirimu. Membawa-bawa nama AGAMA HANYA UNTUK KEPENTINGAN POLITIK. Pantaskah hal itu terjadi padamu? Apa yang membuat rakyatmu seperti itu? Aku rindu akan ketenanganmu, Indonesia. Aku rindu akan kenyamananmu, Indonesia. Aku rindu akan keharmonisanmu, Indonesia. Aku rindu akan dirimu yang menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika.

Korupsi. Adakah kata tersebut di benakmu, Indonesia? Ya, memang hal tersebut sudah ada sejak dulu. Hal yang tidak seharusnya terjadi pada dirimu kan? Aku pun juga berpikir demikian. Mental dan moral rakyatmu yang kurang baik (buruk) yang membuat dirimu menjadi buruk, ya bukan semua rakyatmu, tapi beberapa oknum yang membuat citramu menjadi buruk. Korupsi selalu hadir dari waktu ke waktu, semakin banyak menjerat orang. Dari orang yang memang sudah berniat untuk korupsi dan juga orang yang memang sengaja di jebak untuk terlibat korupsi. Taka sing apabila pejabat-pejabat tinggi negara yang terkena kasus korupsi. Apakah mereka tidak memikirkan tentang dirimu (Indonesia)? Mereka pikir mereka itu siapa? Bisa duduk manis di kursi jabatan kalau bukan karena dipercaya rakyat. Para pemberantas korupsi yang “bersih” tak jarang menjadi sasaran para koruptor. Mereka (koruptor) selalu saja mencari cara agar dapat menghalangi langkah KPK “menyapu” koruptor. Contoh yang paling baru di negaramu ini yaitu kasus Novel Baswedan. Beliau adalah salah satu pemimpin KPK yang didzolimi. Entah siapa yang tega melakukan itu, menyiramkan air keras ke wajah beliau yang membuat wajahnya rusak sebagai langkah untuk menghentikan usaha beliau memberantas korupsi di negara Indonesia. 

Seiring juga dengan globalisasi, aku sebagai warga negaramu selama 18 tahun, banyak menyaksikan perubahan-perubahan yang terjadi. Kegotong-royonganmu sudah jarang sekali terlihat, terutama di daerah perkotaan. Begal, pemerkosaan, perampokkan, pencurian, pencabulan, narkoba, pembunuhan, dan kasus lainnya semakin marak terjadi belakangan ini. Apa Karena moral rakyatmu yang perlu dipertanyakan atau memang sepenuhnya pengaruh globalisasi? Aku rindu akan ketenanganmu, Indonesia. Aku rindu akan kenyamananmu, Indonesia. Aku rindu akan keharmonisanmu, Indonesia.


           Namun, dari semua kekurangan dari dirimu itu ada pula kelebihan yang ada pada dirimu. Keberagaman budaya dan sukumu juga sudah sampai ke manca negara. Bahkan ada negara yang memperlajari kebudayaanmu, contohnya Jerman. Jerman mengadakan kursus dan kelas ekstrakulikuler bagi siapapun untuk belajar gamelan, wow hebat bukan? Siapa sangka budayamu bisa menjadi hal yang dipelajari hingga ke negara eropa. Dan generasi-generasi muda penerus bangsamu sudah banyak berprestasi di bidang olahraga, akademik, budaya, teknologi, dan lain-lain. Contohnya sudah banyak generasi muda Indonesia yang juara di ajang debat internasional, generasi muda yang menjadi perwakilan PBB, juara badminton tingkat dunia, dan masih banyak lagi. 

Meski dengan segala kekuranganmu, tak akan aku berpaling darimu hahaha. 

  

           Terimakasih Indonesia, atas segalanya yang telah kau berikan padaku. 18 tahunku indah ku jalani di Indonesia, suka dan duka yang kurasakan di Indonesia membuatku bangga. Tetaplah menjadi Indonesiaku yang aku banggakan, Indonesia yang aman, tentram, nyaman, harmonis, beragam, dan rukun. Berusahalah semaksimal mungkin membenahi segala kekurangan yang terjadi di Indonesia. Aku bangga menjadi Indonesia!

Teruntuk, negara ku tercinta. Indonesia.

 

Apa kabarmu hari ini. Ku harap, negaraku dalam keadaan yang baik. Sebuah negara yang sangat kucintai dan amat ku banggakan. Entah betapa besarnya kebanggaan ku bisa tinggal di negara yang sangat tenteram ini.

 

Inilah yang kurasakan ketika tinggal di negara ini. Bangga dan tenteram. Ketentraman yang tak bisa dirasakan di negara lain. Menikmati hamparan sawah dan ladang dengan angin yang sepoi-sepoi. Membayangkan nya saja bisa membuat hatiku menjadi tenteram. Inilah suasana asli yang akan didapat di Indonesia.

 

Alam yang begitu indah mempesona dan memanjakan mata bagi siapapun yang melihatnya. Setiap jengkal tanahnya bisa ku tanami dengan tanaman-tanaman indah. Beragam macam budaya dan kesenian ada di negara ini. Beragam suku dan agama tersebar di dari sabang sampai Merauke.

 

Salah satu yang membuat ku sangat cinta dan betah tinggal di negara ini adalah Bhinekka Tunggal Ika, dimana semua perbedaan-perbedaan itu disatukan dalam satu semboyan ke-bhinekaan yang sangat terkenal di dunia. Berbeda-beda, tetapi tetap satu. Walaupun berbeda suku, ras, bahasa, agama, tetapi kita tetap satu yaitu bangsa Indonesia.

 

Tetapi, akhir-akhir ini kulihat negara ini sedang dirundung segudang masalah. Sebuah masalah yang tampaknya bisa menghancurkan negeriku. Masalah yang bisa memecah belah persatuan negeriku yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Negara ini mengalamai masalah toleransi antar perbedaan. Sebuah masalah yang tidak bisa dianggap sepele oleh sebuah negara yang terkenal dengan toleransi yang tinggi terhadap perbedaan.

 

Bermula dari panasnya pemilihan umum pemimpin di suatu daerah di Indonesia, yang akhirnya menciptakan konflik tak berujung dari dua kubu yang berseteru. Saling menebar fitnah, menebar kebencian dan saling merasa yang paling benar, membuat konflik ini seperti tak berujung.

 

Segala bentuk solusi sudah dijalankan untuk menghentikan konflik dari dua kubu yang berseberangan ini. Tetapi, setiap solusi yang diberikan seakan-akan tidak mampu membendung penebaran fitnah dan kebencian yang semakin hari semakin terasa seperti perang saudara. Bahkan, para elit-elit politik yang seharusnya memikirkan rakyat nya, mereka justru bergabung dalam konflik yang tak berujung ini. Ikut menebar fitnah dan menyulut emosi dari kubu lawan.

 

Sekarang, negara ini sedang menerima akibat dari konflik yang tak berujung itu. Penyebaran fitnah dan kebencian yang tak terkendali, menyebabkan pemerintah harus melakukan pembatasan terhadap kebebasan rakyat Indonesia dalam bersuara. Lalu, banyak orang yang menyebut hal ini disebut sebagai pembungkaman dan pelemahan demokrasi di Indonesia. Negaraku makin kacau.

 

Aku semakin hari semakin gerah dengan isi-isi berita di media, yang isinya hanyalah isu-isu agama, isu-isu fitnah dan penyebaran kebencian terhadap salah satu pihak. Masjid-masjid mulai digunakan untuk sarana penyebaran kebencian terhadap suatu ras atau suku di Indonesia. Membuatku semakin gerah.

 

Tidak bisakah kita seperti dulu lagi ?.

 

Dulu, suasana negara ini damai dan tenteram. Kurindukan suasana itu. Dimana kita saling gotong royong tidak memandang perbedaan. Semua berbaur menjadi satu. Bekerja bersama tanpa memandang agama, suku atau ras seseorang. Aku sangat merindukan, dimana bisa duduk bersama meminum secangkir teh bersama dan bersenda gurau. Tanpa memperhatika siapa dia, apa agamanya dan apa etnis nya.

 

Indonesiaku. Minggu depan, kau telah berusia 72 tahun. Aku sangat berharap, seluruh rakyat Indonesia bisa kembali mengenang peristiwa 72 tahun yang lalu, dimana seluruh rakyat Indonesia berkumpul dan mendengarkan bacaan teks Proklamasi yang dibacakan oleh Ir. Soekarno, tanpa memandang suku, etnis maupun agama. Semua membaur dalam kebahagiaan. Bahagia karena telah berhasil mewujudkan cita-cita bangsa ini. Yaitu kemerdekaan.

 

Aku harap, momen kemerdekaan ini bisa merekatkan kembali persatuan kita yang hilang karena konflik intoleransi. Momen kemerdekaan ini harus bisa membangun rasa toleransi kita yang sempat hilang karena diterpa dengan beragam fitnah dan ujaran kebencian. Momen ini juga harus bisa mengembalikan semangat demokrasi kita, semangat berpendapat kita untuk Indonesia yang lebih baik.

 

Dirgahayu negaraku, Republik Indonesia ke 72.

 

MERDEKA....!!! MERDEKA...!!! MERDEKA...!!!



GARDA atau kepanjangan dari Gabungan perdana ini dilakukan tanggal 5 Agustus 2017.Garda Fisip ini menurut saya yang paling meriah diantara fakultas lain karena dari pagi sampek sore kita disibukkan dengan tugas dan kegiatan. Ya mungkin awalnya agak canggung karena belum akrab tetapi setelah membaur rasanya banyak teman dan pengalaman yang kita dapatkan dari Garda ini. Apalagi dengan kakak pendamping yang ramah membantu kita dalam menjelaskan setiap tugas yang kita dapatkan. Di Garda ini kita juga dapat bertemu dengan teman 1 fakultas yang dari bebrbagai pulau jadi bisa bertukar budaya dan menambah wawasan. Untuk misi yang belum jelas atau bingung bisa kita tanyakan agar tugas kita benar. Setelah makan siang bersama kita mendapatkan tuga angkatan yaitu membuat bendera fisip yang mungkin butuh kekompakan dan kerjasama antara S1 dengan D3. Walaupun agak susah dan ribet misi ini dapat kita selesaikan ya walaupun agak molor. alhasil marahan dari kakak omdis membuat hari itu teak terlupakan karena bikin jantung deg-degan. ya semoga dari Garda ini kita dapat lebih disiplin,tepat waktu dan bisa lebih kerjasama. semoga waktu hari-H PKKMB tak kalah seru dengan Garda ini dan semoga tambah meriah . amin . Tak sabar menunggu PKKMB UNS 2017

HOW TO SURVIVE IN SOLO




Oleh : Kelompok Musyoh (03)



PKKMB FISIP 2017

UNIVERSITAS SEBELAS MARET









                                                How To Survive In Solo
                                                      Oleh : (Avista,Vicky,Monica)

Dwi Kuncoro, Dia adalah anak rantauan yang sekarang ini  mencari  ilmu, uang, dan pengalaman di tanah Jawa. Dia berasal dari Kalimantan Barat, mahasiswa berumur 24 tahun ini sudah beberapa tahun tinggal di Jawa khususnya Solo. Anak kedua dari dua bersaudara ini hijrah dari Kalimantan ke Solo untuk kuliah. Awal mulanya dia menargetkan untuk masuk di UNS, akan  tetapi mungkin rezeki kak Dwi tidak di UNS . Setelah gagal untuk masuk UNS dia tidak menyerah, dia mencoba mendaftar di Universitas Swasta yang cukup bagus juga di kota Solo yaitu UMS dengan prodi Pendidikan Ekonomi dan Akuntansi. Mahasiswa yang sudah semester akhir ini sedang sibuk menyelesaikan skripsinya disamping itu dia juga  bekerja.

 

Dia sudah sejak tahun 2013 berada di Solo, jadi dengan mudah menyesuaikan dirinya untuk kuliah dan bekerja.  Sekarang dia menunggu sidang skripsi sambil bekerja di kafe Co Pilot samping UNS. Baru sekitar bulan Januari dia bekerja disana, kalau ditanya kenapa memilih bekerja disana katanya “ Ya jadi orang itu supel aja, cari pengalaman juga dari pada nganggur dikosan mending bekerja untuk nambah penghasilan”. Gajinya  rata-rata 1 juta-1,5 juta/bulan, dan biaya hidup dia kira-kira 1 jutaan. Ya namanya juga anak rantau harus hemat dan belajar survive di kota orang. Saran dia untuk anak rantauan lain survive di Solo cukup gampang yaitu belajar menyesuaikan diri saja, memahami budaya dan lingkungan, mudah bergaul dan tentunya belajar menghargai. Menambah wawasan dan memperbayak teman adalah hal yang kak Dwi lakukan untuk survive di kota Solo. Jauh dari keluarga dan saudara membuatnya belajar mandiri dan bekerja keras untuk menggapai kata Sukses dan mencintai kampung halamannya. Harapan dia untuk mahasiswa di Solo yaitu banyak-banyak mencari ilmu, membaca buku, mencari teman karena itu akan menambah wawasan kita dan juga jadi orang yang supel. Selanjutnya untuk mencari kerja juga jangan di tempat yang terikat karena kita akan susah menyesuaikanya apalagi dengan status kita yang masih mahasiswa. Kak Dwi Kuncoro ini sangat menginspirasi kita , walaupun jauh dari keluarga dia bisa benar-benar survive di kota orang dengan kuliah plus kerja. Semoga motivasi kakak bermanfaat untuk mahasiswa-mahasiswa di Solo dan sukses juga untuk skripsinya . Amin .
 





                                                                                          Solo, Jumat 04 Agustus 2017



Indah Lestari Wulan Aji, yang akrab dipanggil Indah ini berasal dari kota Susu yaitu Boyolali. Dia kelahiran Boyolali,27 Mei 1998. Kita mulai mengenal karena kita satu prodi dan satu fakultas. Berawal dari chat dan tanya-tanya tentang tugas kita mulai akrab dan mengenal. Mungkin awalnya sedikit malu dang canggung tetapi saya merasa mulai  nyaman karena kita suka kegiatan yang sama yaitu pramuka. Setiap malam kita selalu curhat tentang pramuka apalagi tentang cinta patok tenda hehehe. Indah orangnya baik,ramah,sopan,dan kalem. Ya kalau dibandingi sama saya cantikan dia tapi manisan saya. Saya dan dia sekarang sudah bukan kayak temen lagi melainkan sahabat. Kita sudah saling terbuka satu sama lain. Dia yang memiliki hobi membaca ini sangat cepat menyelesaikan baca novel setebel apapun kalau lagi ndak diganggu. Wanita cantik ini mempunya cita-cita sebagai pustakawan yang handal sesuai dengan prodinya sekarang. Ya walaupun kita beda kelompok fakultas maupun univ, kita sama-sama membantu kalau ada kesulitan ditugas. Saling support untuk kebaikan adalah kunci untuk kenyamanan persahabatan kami. Terkadang kalau saya capek atau ada tugas pasti larinya ke kosan dia. Kumpul dengan teman-teman lainnya juga. Ya semoga persahabatan yang baru saja dimulai ini bisa sampai selamanya, dan kita berdoa untuk bertemu di satu kelas.

Apakah menjadi pemimpin haruslah mengepalai sebuah organisasi?

Mengurus anggota kelompok?

Mengatur sebuah acara?

Mengetuai sebuah kepanitiaan?


                Saya alumnus dari SMA yang tidak terkenal di Magelang. Sekolah ini mengharuskan muridnya tinggal di asrama dan hanya laki-laki saja yang boleh bersekolah di sini. Sekolah ini mempunyai tujuan tersendiri selain mengejar nilai akademis, yaitu mempersiapkan muridnya menjadi seorang pastur (sebutan lainnya romo, imam); seorang pemimpin gereja masa depan. Lantas, pemimpin gereja seperti apa yang diharapkan oleh sekolah ini?


Empat tahun saya menjalani masa SMA di sekolah yang tidak biasa. Empat tahun? Ya, SMA saya dimulai dari kelas 0, tidak biasa bukan? Tujuannya untuk membiasakan diri pada lingkungan baru dan teman-teman baru. Sekolah berbasis asrama ini secara otomatis mengharuskan siswanya untuk hidup mandiri. Mencuci, menyetrika, menyapu, mengepel, membeli peralatan, dan lainnya. Kami juga setiap semester diberikan tugas oleh pembimbing kami. Ada yang menjadi ketua angkatan, sekretaris, bendahara, keamanan, mengurusi ternak, kebun, lampu dan setrika, kamar mandi, mengurusi komputer angkatan, sampah, tempat tidur, dan masih banyak lagi. OSIS di sekolah saya juga sangatlah tidak biasa. Ada yang menjadi koordinator estetika panggung, koordinator ruang makan, dan bahkan menjadi seksi pemencet bel.


Peran-peran diatas sangatlah remeh untuk sebuah organisasi besar apalagi OSIS. Mungkin akan muncul pertanyaan, kenapa yang memencet bel tidak dibebankan kepada karyawan? Atau, Ini kan sudah zaman digital, kenapa tidak memakai sistem komputer? Perlu digaris bawahi sekali lagi, sekolah saya tidak hanya memikirkan sebuah kepraktisan dalam menjalankan sistem pendidikan yang menghasilkan nilai akademis saja, tetapi juga mendidik muridnya menjadi pribadi yang tangguh, yang bisa menjadi pemimpin gereja masa depan. Tugas pemencet bel tidak hanya saat jam sekolah saja, tetapi juga saat jam asrama. Siapa coba yang mau bangun lebih dulu dari teman-teman lain untuk memencet bel? Padahal kami bangun jam 04.45 yang dibarengi dengan dinginnya Magelang. Mereka yang mendapat tugas ini adalah manusia yang tangguh, yang bertanggung jawab akan semua jadwal di asrama.  


Hal yang paling remeh lagi adalah menjadi seksi listrik dan lampu. Tugasnya adalah mematikan lampu saat pagi hari di setiap gang di Seminari, menyalakan lampu pada sore hari, dan mematikan beberapa lampu yang tidak terpakai pada malam hari, yang mengharuskan mereka yang mendapat tugas ini untuk tidur paling malam dari teman-teman lainnya, juga melawan dinginnya Magelang pada malam hari dan keangkeran Seminari. Hal sepele lainnya adalah melaporkan kerusakan setrika. Kami harus melaporkan kepada pembimbing kami, lalu ditanyai siapa yang merusakan, membuat surat perbaikan ataupun pembelian setrika baru, dan menunggu setrika baru yang biasanya direalisasikan 3 bulan kemudian.


Secara tidak langsung, mereka adalah pemimpin, karena mereka bertanggung jawab akan kelangsungan hidup banyak orang. Adakah mereka di zaman modern ini mau mengambil peran-peran remeh seperti itu, tidak mengincar ketenaran, kekuasaan, dan kenyamanan? Adalah mereka yang pada zaman ini mau memilih berlelah-lelah, mengorbankan waktu pribadinya untuk melayani orang lain? Adakah mereka memilih pekerjaan remeh tetapi mempunyai tanggung jawab yang besar? Bisakah seorang pemimpin banyak mengkoordinir tetapi juga lebih banyak lagi untuk ikut bekerja? membantu pekerjaan-pekerjaan remeh seperti memencet bel, mematikan listrik, membuang sampah, dan pekerjaan remeh lainnya?


Bertanggung jawab, visioner, mampu mempengaruhi, jujur, berwibawa, tidak egois, bijaksana, tegas, dan sifat lainnya memang harus dipunyai oleh seorang pemimpin. Akan lebih baik jika seorang pemimpin berani menjamah, berani turun ke bawah untuk menyapa, untuk bekerja bersama. Saya tidak hobi berorasi, saya jarang menyerukkan pendapat di depan massa. Saya lebih memilih pendekatan secara pribadi. Saya pernah berbicara dengan teman saya sampai pagi, mengorbankan waktu tidur saya, hanya untuk mendengarkan teman berkeluh kesah. Saya jarang memaksakan seseorang untuk melakukan sesuatu, saya mencoba untuk bertindak sendiri. Saya jarang membebankan tugas saya kepada orang lain, saya mencoba untuk menyelesaikannya sendiri. Saya sering mendengarkan saran dan kritik orang lain, bukan menutup telinga akan itu semua.


Bukankah melakukan tugas remeh, menjadi rendah hati, bukan sesuatu yang populer, terutama di zaman ini? Banyak orang memilih ingin menonjol, ingin menjadi populer, dan pada akhirnya ingin terpilih menjadi pemimpin. Zaman ini menghendaki demikian; bahwa mereka yang di bawah, mereka yang “sekedar” melayani itu kalah, tidak hidup, tidak manusia; bahwa satu-satunya cara untuk menjadi manusiawi dan menjadi berarti adalah dengan melakukan hal-hal besar, populer, dan dilayani. Akan tetapi, ada juga mereka yang dari bawah bisa menjadi pemimpin, yang hanya memilih pekerjaan biasa, namun bekerja dengan hati. Memimpin bukan karena wibawanya, tetapi karena pelayanannya.


Saya tidak menginginkan diri saya menjadi seorang pemimpin. Saya lebih suka menjadi seseorang yang biasa, yang mau melayani banyak orang. Saya suka mengingatkan deadline pengumpulan tugas, saya suka bergerak cepat untuk mengerjakan tugas bersama teman-teman lain, saya suka berjuang untuk kelompok. Kebiasaan diatas ada karena saya memang dibentuk untuk mengambil bagian-bagian kecil, beberapa hal yang remeh.  Baru-baru ini, saya dijadikan ketua kelompok karena kebisaan saya itu. Pada awalnya saya menolak, saya tidak mampu. Akan tetapi, teman-teman memaksa saya menjadi ketua kelompok. Aku mengambil peran remeh diatas untuk melengkapi kelompok, bukan untuk menjadi pemimpin. Jika aku menjadi pemimpin? Sederhana saja, melayani.