Content 2 How to Survive from Muhammad Imam Hatami's blog

How to Survive in Solo

          (Oleh: Muhammad Imam Hatami,Rengga)


Namanya adalah bapak  Muhson,seorang pekerja keras dan pejuang kehidupan dari sebuah desa kecil di daerah klaten yaitu ceper,walaupun beliau bertempat tinggal di ceper namun bapak Muhson bekerja mencari nafkah sehari hari di solo bahkan sering di solo di bandingkan di tempat asalnya sendiri,bapak mmuhson adalah ayah dari tiga orang anak beliau mengatakan bahwa dua anak sulung nya sudah menikah semua tinggal anak ketiga.kelompok kami bertemu bapak Muhson di komplek Taman Hiburan Rakyat Sriwedari solo.ketika kami menemui beliau beliau sedang memilah milah barang barang yang membawa rejeki untuknya,ya....beliau adalah seorang pemulung beliau memungut apapu  yang bisa di jual kembali beliau ketika itu sedang memasukan botol bekas yang di pulung dari keranjang ke bagor.dan yang membuat kami kaget ketika kami membantu memindahkan botol botol tersebut dan kami hendak membuang sisa air yang ada di botol tersebut justru pak Muhson melarang kami membuang nya beliau malah mengumpulkan nya di botol besar dan mengatakan pada kami “ampun di guwak mas banyu ne,di paringke botol gede mawon lumayan saget ngge ngombe timbang tuku mas”.dari pernyataan tersebut kami sungguh kaget dan malu.malu karena ternyata ketika kami membuangmakanan di rumah justru ternyata banyak orang di luar yang membutuhkan makanan ini dan bahkan air bekas dari beberapa botol pun di kumpul kan untuk di minm.

Menurut beliau dan terlihat juga dari ekspresi serta tingkah laku beliau bisa dikatakan bahwa hidup di solo itu lumayan keras,keras bagi orang orang kecil seperti pak muhson yang seorang pemulung walau tidak terasa keras bagi mahasiswa seperti kami dan seperti orang orang yang lebuh beruntung dari pak muhson.hidup sehari hari di solo pak muhson tidak banyak membeli sesuatu dia hanya membeli sesuatu yang sangat sangat di butuhkannya yaitu makan.sehari makan di solo pak muhson bisa menghabiskan lima belas ribu,untuk tentunya bagi kita lima belas ribu adalah nominal yang sangat kecil tapi bagi orang orang seperti pak Muhson nominal ini lumayan  besar.bagipak muhson tidak perlu membeli makanan yang enak dengan lauk yang menggairahkan cukup nasi dengan lauk alakadarnya yang terpenting perut kenyang dan dapat melanjutkan kehidupan.

Dari pak Muhson kami dapat belajar secercah cara agar lebih mensyukuri hidup dan posisi yang di berikan sang pencipta alam pada kehidupan kita.beliau juga berpesan pada kami selaku mahasiswa baru agar kami bisa bertahan hidup di solo maka menurut beliau kami harus bisa terlebih dahulu untuk membaur dengan masyarakat solo yang lain,pembauran ini penting karna dengan ini kami dapat membiasakan diri dengan kehidupan solo dan kultur serta kebiasaan yang ada di solo.kemudian kami juga harus senantiasa pandai memilih kawan agar ketika bergaul tidak terperosok kedalam lembah yang salah,serta yang terakhir kami harus senantiasa mampu mencintai solo seperti kami mencintai kota kami sendiri karna menurut beliau dengan hal ini kita dapat merasa bahwa solo juga adalah ilik kami.

Harapan beliau pada mahasiswa saat ini adalah yang paling utama agarmahasiswa mampu membawaperubahan dalam masyarakat,mampu menjadi pionir masyarakat,serta mampu membantu rakyat kecil seperti pak Muhson.selain itu mahasiswa ketika sudah lulus hendaknya mampu menciptakan lapangan pekerjaan, bukan justru menganggur menunggu pekerjaan datang agar banyak orang terselamatkan dari pengangguran dan agar semakin banyak orang indonesia hidup di atas garis kemiskinan.serta mampu membawa kemajuan indonesia yang lebih dari sekarang karna nantinya suatu saat generasi sekarang pasti akan menggantikan generasi yang memerintah saat ini,dengan hal itu beliau mengingin kan generasi sekarangf utamanya mahasiswa yang kelak akan menggantikan generasi pemerintah saat ini agar menghilangkan jiwa jiwa korupsi kolusi nepotisme yang menjamur saat ini.untuk menuju indonesia yang maju dan bermartabat senilai dengan tetes darah para veteran dan pahlawan kemerdekaan.

                                                                                                               surakarta,9 agustus 2017



Previous post     
     Next post
     Blog home

The Wall

No comments
You need to sign in to comment

Post

By Muhammad Imam Hatami
Added Aug 11

Rate

Your rate:
Total: (0 rates)

Archives