Surat Untuk Indonesia from Rosseta Septia Menawati's blog

Surat Untuk Indonesia

Dear Indonesia, negara kaya yang menjadi kebanggaan warganya. Ribuan pulau berada dalam naungannya. Kekayaan alam yang melimpah ruah, dari tanah, air, flora serta fauna. Tempat jutaan manusia bergantung melanjutkan hidup di dalamnya. Menjadi salah satu negara pelopor perdamaian dunia.

Indonesia yang merdeka melalui pengorbangan serta perjuangan besar para pahlawan dengan jiwa dan raganya demi berkibarnya bendera kebangsaan Merah Putih. Perbedaan suku, ras, agama menjadikannya satu demi tegaknya kedaulatan bangsa dan negara. Indonesia yang menjadi tumpah darah, tanah air tercinta bagi penduduknya.

Indonesia negara tempat dimana saya dilahirkan, tempat dimana saya berjuang menggapai cita-cita, tempat dimana saya berteduh dan menjalani hidup, dan negara tercinta tumpah darah penduduknya. Negara yang mengagungkan cinta, toleransi, dan perdamaian, serta keadilan. Dasar negara yang menjadi cermin serta pedoman hidup bangsanya. Serta Pancasila yang menjadikannya satu dengan keanekaragaman suku, ras, agama, maupun budaya. Semua menjadi satu Bhinneka Tunggal Ika. Perbedaan bukan menjadikannya sebagai pemisah maupun menjadi sekat-sekat yang membuatnya jauh tetapi perbedaan menjadikan Indonesia menjadi negara yang kuat dan kaya dengan hal itu. Perbedaan budaya yang dapat dijadikan ciri khas setiap suku-nya, membuat setiap daerah memiliki simbolnya masing-masing. Dan setiap perbedaan itu dapat disatukan dan menyatu menjadi akulturasi budaya yang begitu hebat. Dengan begitu banyaknya budaya dan suku dan juga perbedaan daerah membuat Indonesia memiliki bahasa daerah yang begitu banyak dan semua itu dapat disatukan dan dapat berkomunikasi dengan bahasa indonesia. Begitu banyaknya perbedaan membuat Indonesia harus siap menghadapi banyak rintangan ke depannya. Dan permasalahan perbedaan dapat di atasi dengan adanya toleransi. Toleransi yang tinggi, yang dipupuk di setiap jiwa warga negaranya dapat membuat Indonesia menjadi negara yang damai, aman, serta rukun di bawah atap perbedaan tersebut. Keanekaragaman tersebut benar-benar dapat disatukan dengan adanya toleransi, setiap warganya yang saling menghormati serta menghargai setiap perbedaan pendapat, agama, suku, dan lain-lain.

Tetapi yang terjadi kini justru sebaliknya, adanya jaman modernisasi membuat nilai toleransi semakin luntur, dan jiwa individualis serta egoism dijunjung tinggi. Dan adanya filosofi siapa yang berkuasa dia yang akan menang membuat kerukunan, serta kedamaian di dalam negara semakin terancam. Begitu banyak percecokan, perseteruan, perkelahian yang terjadi dimana-mana karena berbabagi alasan dan semua itu di awali dari permasalahan sepele yang merembet ke permasalahan lainnya. Sikap toleransi atau tenggang rasa kini benar-benar sudah mulai luntur, para provokator tidak dapat dikenali mereka dapat menjadi siapa saja. Menjadi rakyat biasa maupun seorang petinggi sekalipun.

Dan melalui surat untuk Indonesia ini saya ingin menyampaikan supaya Indonesia menjadi negara yang damai dengan kembali menumbuhkan jiwa toleransi di setiap warga negaranya. Adanya globalisasi maupun modernisasi bukan menjadikan alasan bagi Indonesia untuk tidak toleransi. Karena Indonesia adalah negara yang begitu kaya akan keanekaragamannya sehingga sikap individualisme tidak akan dapat membuat Indonesia menjadi negara yang damai maupun dapat menjadikan Indonesia menjadi negara yang maju. Justru karena adanya sikap individualisme membuat Indonesia menjadi negara yang rapuh dan dapat diserang negara lain dengan mudah karena persatuan di setiap jiwa warganya telah hilang. Pancasila sila ke tiga yang menjadi dasar bersatunya setiap warga harus ditegakkan dengan baik. Persatuan sangat penting bagi tegak dan kokohnya suatu negara. dan melalui surat ini juga saya berharap agar Indonesia menjadi negara yang damai, bersatu dalam keragaman suku, ras, agama, budaya, dan lain-lain. Karena banyaknya keragaman yang terjadi di Indonesia justru menjadikannya sebuah kekayaan besar. Dan terakhir untuk Indonesia-ku, Indonesia kita,”Mari bersatu bersama, demi negara yang damai dan tangguh”


Previous post     
     Next post
     Blog home

The Wall

No comments
You need to sign in to comment

Post

By Rosseta Septia Menawati
Added Aug 7

Rate

Your rate:
Total: (0 rates)

Archives