Jika Aku Menjadi Pemimpin from Niken Larasati's blog

Terdengar mudah, tapi fakta di lapangan berkata sebaliknya. Memimpin bukan soal siapa memerintah siapa, tapi siapa mengarahkan siapa dan bersama-sama terjun dalam proses perwujudan tujuan utama semua pihak. Dewasa ini, banyak orang merasa sangat, sangat kesulitan menjadi sosok pemimpin yang tegas dan bijaksana namun tetap dicintai pengikutnya. Sebab, mengatur para pengikut dengan isi kepala serta kemauan yang jelas berbeda-beda bukanlah perkara mudah. Apalagi ketika diharuskan membuat suatu keputusan, yang sudah pasti tidak serta merta semua pengikut bakal menyetujui begitu saja dan menganggap bahwa begitulah pemimpin yang mereka dambakan. Kembali pada sifat-sifat dasar manusia, meski semua memiliki satu tujuan yang sama, tidak menutup kemungkinan konflik akan selalu muncul akibat keberagaman daya upaya tiap-tiap individu dalam mencapai kesuksesan tsb. 

Jika saya menjadi seorang pemimpin, beberapa poin di bawah inilah yang sekiranya akan menggambarkan sosok ‘Saya Si Pemimpin’ secara singkat kepada pembaca.

Pertama, selalu mendengar dan menerima. Dalam artian tidak akan pernah menutup telinga dari segala bentuk masukan baik itu dukungan ataupun kritikan sekalipun. Rutin mengevaluasi hasil kerja dan di samping menampung semua masukan yang ada, saya akan tetap memilah-milah mana yang paling memberikan dampak signifikan bagi penerapan kebijakan ke depannya.

Kedua, berwawasan luas. Seorang pemimpin pasti akan selalu dihadapkan dengan kewajiban mengambil keputusan esensial yang menyangkut hajat hidup pengikutnya. Wawasan yang ekstensif jelas akan sangat membantu saya memaksimalkan keuntungan dan meminimalisir kerugian dalam melahirkan sebuah hasil/keputusan.

Ketiga, kooperatif dan komunikatif. Mengutip kalimat dari kanselir Jerman Angela Merkel beberapa waktu lalu usai KTT G-20, “Adalah salah jika menganggap bahwa masalah dunia bisa diselesaikan oleh satu orang.”, saya kemudian berpikir, dalam konteks apapun, yang dibutuhkan untuk menggapai kemajuan bersama adalah jalinan kuat kerja sama antar pemimpin dan tim. Pemimpin tetaplah pemimpin, namun koordinasi dengan timnya-lah yang paling krusial. Guna menjembatani itu semua, maka saya akan selalu membangun nuansa komunikasi yang efektif dan rasa saling percaya antar pihak. Mengedepankan dialog yang konstruktif ketimbang penggunaan kekerasan juga adalah kuncinya.

Keempat, apresiasi. Memberikan apresiasi pada yang berprestasi menurut saya akan memancing kerja keras tim menjadi lebih solid dan kompeten.

Selain keempat hal di atas, sifat teladan Rasulullah yang meliputi:     sidiq, amanah, tabligh dan fatonah pun juga akan menjadi fondasi saya untuk melangkah ke depan bila suatu saat menjadi pemimpin. Karena ketika sudah diamanatkan menjadi seorang pemimpin, yang wajib dilakukan adalah memegangnya benar-benar agar tidak terjadi disekuilibrium dalam kepengurusan. Karena pro kontra memang selalu ada. Setiap keputusan yang ada pun tak jarang muncul penolakan dari pihak-pihak tertentu. Tinggal bagaimana terampilnya langkah-langkah jitu yang mesti dikeluarkan seorang pemimpin dalam menyelaraskan perbedaan tsb.

          Tak terhitung jumlahnya tokoh-tokoh yang sangat mempengaruhi pemikiran saya seandaianya suatu saat saya benar-benar jadi Pemimpin seperti mereka. Keyakinan saya begitu besar soal siapa saja bisa menjadi pemimpin tidak peduli latar belakang pendidikan atau darimana kita berasal. Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, Ibu Susi Pudjiastuti, yang menarik perhatian publik karena hanya lulusan SMP, adalah bukti nyatanya. Julukan sebagai prajurit pelindung laut nusantara layak disematkan padanya, berkat keberaniannya menerapkan kebijakan yang bagi banyak orang terdengar gila, salah satunya menenggelamkan kapal-kapal ilegal. Tak sungkan membuat gebrakan demi perubahan, itulah yang saya teladani dari beliau. Dan tidak lupa, beliau juga merupakan cerminan perempuan masa kini yang berani dan bisa memimpin Kementrian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia! Bahkan jauh sebelum Ibu Susi, ada juga sosok tangguh mantan Wapres  RI ketiga, Adam Malik, salah satu tokoh sentral dalam proses kemerdekaan Indonesia yang hanya lulusan SD namun banyak sekali berkontribusi bagi NKRI di ranah internasional.

          Selain itu, saya juga ingin menjadi pemimpin yang merupakan konseptor dan eksekutor tangguh seperti Bapak Basuki Tjahaja Purnama. Juga menjadi pemimpin yang selalu dikenang dan dicintai rakyatnya meskipun sudah tidak menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta lagi. Jarang sekali ada eksistensi kepala daerah yang tingkat popularitasnya dapat menandingi pejabat tingkat pusat termasuk presiden. Meski banyak orang, individu, serta organisasi yang tidak suka dengan gaya kepemimpinannya, beliau tetap berani tampil. Bahkan terlihat, ketika menjadi tersangka kasus pennistaan agama, sikap beliau tetap terbuka dan menaati hukum yang sedang berjalan. Hingga sidang ke-lima, tidak pernah sekalipun mangkir, ataupun telat datang ke pengadilan. 

          Inspirator lainnya datang dari Gus Dur dan Hugo Chavez, pemimpin pluraris yang bisa merangkul semua etnis, suku, dan agama. Mantan presiden Venezuela Hugo Chavez sendiri adalah pemimpin yang sangat terkenal di dunia Arab karena keberaniannya, dukungannya pada keadilan, serta karena mendukung maksud yang adil atas Palestina.

          Terakhir, jika suatu saat menjadi pemimpin, saya akan selalu berupaya memberikan keputusan yang terbaik untuk bersama. Urusan diterima atau tidak, suka atau tidak suka, hanyalah bonus. Asal dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan melewati pertimbangan yang matang, tidak ada kata ragu menghadapi pertentangan di depan mata.

         


     Next post
     Blog home

The Wall

No comments
You need to sign in to comment

Post

By Niken Larasati
Added Jul 30

Tags

Rate

Your rate:
Total: (0 rates)

Archives