logika eksperimen-penelitian kuantitatif from lilik purnamasari's blog


 

 BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    LOGIKA PENELITIAN

Logika berhubungan dengan caraatau proses penalaran (reasoning). Ilmunya disebut ilmu logika (logic, the science of reasoning). Jika proses penalaran berjalan dengan baik, maka proses itu disebut logis. Secara umum penelitian merupakan proses penemuan jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan oleh seorang manusia. Penelitian (riset, research) merupakan proses yang dilakukan manusia untuk mencari kebenaran (truth). Dalam proses itu terdapat tahapan yang diurut secara logis. Urutan tersebut merupakan rantai penalaran(chain of reasoning). Rantai penalaran(chain of reasoning) memiliki anak rantai penalaran sehingga menghasilkanan sebuah logika penelitian, yaitu: (1) perumusan permasalahan penelitian, (2) perumusan kerangka teoritik, (3) penentuan metodologi, (4) analisis data, dan (5) penarikan kesimpulan. Untuk menjamin validitas penelitian, maka urutan  tersebut tidak boleh dibolak-balik apalagi diabaikan keberadannya. (http://bloghaliman.blogspot.com/2013/01/logika-penelitian-suatu-tinjauan-umum_29.html)

 

B.     Logika Eksperimentasi

Usaha untuk menetapkan hubungan antar variabel didalam penelitian sosial terdaat dua pendekatan yaitu metode survei dan metode eksperimen. Kedua pendekatan itu pada dasarnya berbeda. Di dalam penelitian survei, peneliti tidak mempunyai kemampuan mengontrol lingkungan atau kondisi varibel yang mereka teliti. Berbeda halnya dengan penelitian yang menggunakan metode eksperimen. Penelitian eksperimen meliputi penelitian suatu variabel terikat dan satu atau lebih variabel bebas yang diduga mempunyai hubungan sebab akibat, (Bruce A Chadwick dkk, 1991: 188). Peneliti berada di kancah suat data dikumpulkan dan mencoba untuk mengontrol lingkungan eksperimental. Pengontrolan terhadap proses penelitian memungkinkan peneliti mencoba untuk menetapkan hubungan kausalitas, dan bukan semata-mata hanya sekedar mencari hubungan antar variabel. Memang tujuan rancangan eksperimen ialah untuk menetapkan hubungan kausal.

Di dalam eksperimen yang ideal, pelaku eksperimen mempunyai kemampuan mengontrol lingkungan dimana eksperimen itu diselenggarakan dan menjaga konstan atau mengontrol suatu lingkungan atau faktor-faktor luar yang mungkin mempengaruhi eksperimen itu. Dia juga dapat mengontrol komposisi kelompok-kelompok eksperimen dan kelompok pengendali yang pada umumnya dilakukan dengan cara berpasangan atau dengan cara randomisasi. Secara teoritis segenap kelompok-kelompok itu harus identik menurut ciri-ciri mereka. Selanjutnya pelaku eksperimen dapat mengontrol variabel independen atau variabel penyebab. Akhirnya peneliti mempunyai kemampuan untuk mengukur nila-nilai daripada variable independen sebelum dan sesudah dikenai perlakuan (treatmen). Pengukuran terhadap subjek-subjek sebelum dikenai perlakan itu disebut pretest dan pengukuran sesudah dikenai variabel independen itu di sebut postest perbedaan nilai antara pretest dan postest memberikan petunjuk kasar dari akibat variabel penyebab.

Logika dasar dari eksperirmen cukup sederhana. Peneliti memulai dengan sebuah hipotesis kausal yang menyatakan bahwa satu variabel (yaitu variabel independen) menimulkan peruahan pada variabel yang lai (yaitu variabel akibat atau variabel independen). Contoh hipotesis kausal adalah sebagi berikut: “Penyuluhan Pertanian Dapat Meningkatkan Pendapatan Petani”. Langkah-langkah berikutnya adalh sebagai berikut

1.    Melakukan pretest, yaitu pengumpulan data sebelum suatu kelompok eksperimen diberi treatment. Dengan contoh hipotesis kausal yang pertama, peneliti mengumpulkan data pendapatan petnai sebelum diberi penyuluhan. Treatment nya berupa peneyuluhan.

2.    Memasukkan variabel indpenden kedalamnya. Dengan contoh hipotesis kausal yang pertama, variabel independennya sama dengantreatment yaitu penyuluhan.

3.    Melakukan posttest untuk melihat apakah ada perubahan sebagai hasil dari dimasukkannya variable independen itu. Posttest adalah pengumpulan data setelah kelompok eksperimen diberi treatmen. Dengan contoh diatas adalah pengumpulan data setelah petani yang di beri penyuluhan itu memanen hasilnya. Perubahannya adalah perbedaan pendapatan sebelum dan sesudah penyuluhan.

Dalam kenyataan, dengan contoh yang pertama, kita tidak mudah menyimpulkan bahwa perubahan pendapatan adalah akibat dari penyuluhan. Kita tidak dapat mengontrol variabel-variabel luar seperti misalnya cuaca, curah hujan, hama, dll. Bahkan penyelenggaraan pretest itu sendiri bisa merubah nilai pada variabel independen. Dengan subjek-subjek penelitian manusia benar-benar ribuan faktor dapat mengotori eksperimen. Menurut logika eksperimen bila kita mampu mengisolasikan sebab yang dapat menimbulkan akibat kita dapat menyatakan bahwa sebab itu hanyalah satu-satunya yang dapat menimbulkan perubahan pada variabel dependen. Hal demikian ini mungkin hanya bila semua variabel yang mungkin mempengaruhi variabel dependen dapat dikontrol.

Suatu cara untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kontaminasi (pengotoran atau penularan) ialah penyelenggaraan ekperimen dalam waktu yang singkat agar subjek-subjek dapat diteliti itu dapat dikuasai dalam keseluruhan waktu. Orang biasanya cenderung menjaga siakap atau pendapatnya agar kelihatan konsisten. Responden masih bisa mengingat jawaban pada setiap item pretest. Kemungkinan mereka tidak mengubah jawaban setelah postest agar kelihatan bahwa dia adalah orang yang tidak mudah berubah-ubah pikiran atau sikapnya ini dipengaruhi adanya kemungkinan ada pengaruh pretest terhadap postest. (Slamet Yulius, 2006: 13-16)

 

C.    Logika Induksi Analitik Dan Enumeratif

Penelitian kuantitatif terkait secara khas dengan proses induksi enumeratif (induksi yang ditarik atas dasar perhitungan). Salah satu tujuan utamanya adalah menemukan berapa banyak dan jenis manusia apa saja dalam populasi umum dan populasi induk yang mempunyai karakteristik khusus yang ditemukan ada dalam populasi sampel. Tujuanya adalah menyimpulkan sistem karakteristik atau hubungan antaraubahan dengan populasi induk.

Istilah induksi analitik, sebagaimana dipahami oleh para pencetusnya, Znaniecki (1934) dan Lindesmith (1938) didefinisikan berbeda diametris dengan induksi enumeratif. Tetapi berlawanan dengan keyakinan-keyakinan tentang sains sekarang ini, metode utama ilmu pengetahuan alam tidaklah sinonim dengan statistik-statistik inferensial, tetapi meliputi proses-proses induksi analitik. Dalam induksi analitik, peneliti bergerak dari data melalui perumusan hipotesis kepada pengujian dan verifikasinya.

Induksi analitik sangat sering digunakan dalam penelitian etnografis (hammersley dan atkiso dalam julia bannen, 2002:14). Prosesnya dimulai dengan penerjunan diri peneliti dilapangan. Pada saat memulai masalah yang diteliti hanya ditentukan secara kasar, kasus yang konkret diamati dan ciri-cirinya yang mendasar diabstraksikan. Kemudian penjelasan hipotetik tentang fenomena itu, sebagaimana diidentifikasi dala kasus tersebut secara kasar, dirumuskan: penentuan apakah fakta-faktanya sesuai dengan penjelasan tersebut dilakukan pada suatu kasus atas dasar kasus lain. Jika suatu kasus tidak merangkum fakta-fakta maka penjelsan dirumuskan kembali atau fenomena itu didefinisikan ulang sehingga kasus yang menyimpang atau yang negatif tersisih. Penjelasan tersebut dicocokkan setelah rangkaian kasus-kasus diuji dan dihipotesis. Ditemukan sesuai dengan fakta dalam masing-masing rangkaian kasus tersebut. Prosedur ini terus dilakukan sampe pada titik kejenuhan, ketika tidak ditemukan lagi kasus negatif. Bagi beberapa pencetus kasus induksi analitik, terutama lindesmith, proses itu berlanjut sampai terbangun suatu hubungan atas hukum universal. Masing-masing kasus memunculkan kemungkinan redefinisi atau reformulai, peneliti dapat melanjutkan ke pengujian. Dalam langkah terakhir ini, studi lindesmit tentang pecandu opium adalah contoh yang jelas dan jarang dari pendekatan ini (lindesmith dalam julia bannen, 2002: 14).

Penelitian kuantitaif tidak selalu menguji hipotesis, tujuanya seringkali bersifat deskriptif. Sebagaimana dijelaskan Bulmer (1979) menyangkut teori grounded, sekalipun kaidahnya seperti itu dimana mereka pada awalnya menuntut ketegangan kesadaran dari kategori-kategori dan konsep-konsep yang relevan, tetapi ada ruang untuk skeptis.

Induksi enumeratif dan induksi analitik mempunyai titik tolak yang berbeda: karena itu, induksi enumeratif memberikan abstraksi dengan generalisasi, sementara induksi analitik menggeneralisasi dengan abstraksi. (Julia Brannen,2002:12-16)

 

D.    Generalisasi Dan Ekstrapolasi (Masalah Dalam Logika Penelitian)

Sebagian masalah yang menonjol dalam logka penelitian, menurut paradigma kuantitatif, adalah persoalan kegeneralisasian. Seberapa jauh temuan-temuan dapat digeneralisasikan kepada populasi umum atau populasi induk. Dalam memilih sampel, diperlukan kecermatan sehingga tidak ada yang bisa terbawa ke dalam sampel tersebut dengan tingkat kepastian tertentu yang diperkirakan secara tepat karakteristik-karakteristik populasi induk terwakili secara akurat. Apabila inferensi-inferensi statistik dibuat menyangkut hubungan kedua kharateristik dalam populasi induk, maka inferensi hanya bekisar pada variasi yang sesuai dengan kedua karakteristik tersebut. Namun demikian, jika peneliti kuantitatif tertarik dengan penjelasan tentang sebab-sebabnya maka perlu juga memperhatikan korelasi statistik dan masalah-masalah keterwakilan (representativeness) dan menempuh pemikiran teoretis tentang hubungan antara kedua karakteristik itu (mitchell dalam julia bannen, 2002: 17)

Namun dalam prakteknya, orang-orang yang bekerja dengan metode-metode kuantitaif sering menyembunyikan inferensi teoretis dan statistik. Oleh karena itu, apabila hubungan antar ubahan ditemukan dalam sampel statistik, maka kaitan-kaitan teoretis dipostulasikan bukan dibuat. Kaitan teoretis juga dianggap ada dalam populasi induk. Karena ciri-cirinya dapat disimpulkan ada dalam populasi itu. (mitchell dalam julia bannen, 2002: 17)

Masalah kegeneralisasian dan ekstrapolasi terkait erat dengan proses pemilihan kasus-kasus untuk suatu penelitian. Apabila metode kuantitatif digunakan, survei-survei misalnya, maka sampel-sampel nya random atau representatif, karena itu diperlukan generalisasi.

Dalam penentuan sampel teoretis, ada pertanyaan selanjutnya mengenai jumlah kasus atau kelompok yang dipillh. Tidak terdapat pedoman yang pasti disini. Keseimbangan perlu ditemukan antara titik jenuh teoretis dan ketersediaan waktu dan dana. Sebaliknya sampling statistik, sebagaimana telah dikemukakan, terkait dengan pertanyaan inferensi statistik- pertanyaan apakah sampel itu dalam batas-batas probabilitas tertentu dianggap mencerminkan populasi induk. Menurut paradigma kuantitatif, perlu juga diajukan pertanyaan-pertanyaan menyangkut kelompok-kelompok pembanding. Keputusan-keputusan disini biasanya tidak begitu berkembang dengan pertanyaan teoretis sentral dari penelitian dan lebih sering menyangkut variasi-variasi yang diharapkan (sering struktural). (Julia Brannen,2002:18)

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Brannen, Julia. 2002. Memadu Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Slamet, Yulius. 2006. Pengantar Penelitian Kuantitatif. Surakarta: UNS Press.

Chadwick, Bruce, Howard M Bahr & Stan L Albrecht.1991. Metode Penelitian Ilmu Pengetahuan Sosial. Semarang: IKIP Semarang Press.

(http://bloghaliman.blogspot.com/2013/01/logika-penelitian-suatu-tinjauan-umum_29.html)

 

 


     Blog home

The Wall

No comments
You need to sign in to comment

Post

By lilik purnamasari
Added Mar 3 '14

Rate

Your rate:
Total: (0 rates)

Archives