Cerita Pendek from Raihana Citra Betary's blog

BAPAK ?


            “Nasi tadi pagi Masih enak, itu ibu buat jadi nasi goreng kesukaan adek, dibagi dua sama Mas ya. Jangan lupa, habis maem piring sama gelasnya dicuci sekalian, terus PR-nya dikerjain, kalau nggak tau tanya Mas. Tidurnya jangan malem-malem, besok sekolah. Ibu tinggal ya, yang akur sama Mas, jangan berantem.”

            Ibu memang selalu terlihat cantik, apalagi ketika wajah Jawa yang tanpa sengaja ia ambil dari nenek itu dilapisi dengan bedak, lipstik, eye shadow, dan pensil yang biasanya aku pakai untuk menggambar di buku, sekarang ibu gunakan untuk menggambar di alisnya.

            Bajunya bagus, seperti milik orang-orang yang ada di televisi. Bentuknya seperti gaun milik anak-anak perempuan, warnanya biru seperti celana seragam Mas, ada hiasan bunga-bunga kecil warna biru yang lebih muda di bagian bawahnya, membuatnya terlihat mahal. Walaupun sebenarnya menurutku baju itu terlalu kecil untuk badan ibu yang sebenarnya sudah kecil. Ibu hanya punya tiga baju yang indah seperti itu, ia memakainya, mencucinya, menjemurnya, dan memakainya lagi. Ketiganya merupakan pemberian dari teman-teman ibu yang datang ke rumah, dan ketiga-tiganya juga kekecilan.

Besok kalau udah punya uang, aku mau ajakin ibu belanja baju, biar ibu bisa pilih sendiri yang pas sama ukuran badannya.

Saat ibu berpamitan, aku mencium tangannya, ibu selalu tercium seperti ini, aroma sabun segar dan parfume isi ulang yang tercampur. Mungkin walaupun mataku ditutup, aku akan tau kalau itu ibuku.

Biasanya ia akan dijemput oleh temannya menggunakan mobil, temannya akan menunggu di depan gerbang, aku mengantarkan ibu sampai kedepan pintu dan baru akan Masuk ketika mereka sudah pergi. Dulu Mas juga sering mengantarkan ibu sampai depan pintu, tapi sekarang tidak pernah, akhir-akhir ini aku jarang melihat Mas bicara dengan ibu, mungkin karena terlalu sibuk mempersiapkan ujian nasional yang tinggal beberapa minggu lagi.

Setelah ibu berangkat, aku melakukan apa yang tadi menjadi pesan ibu, tapi terkadang aku malas untuk mencuci piring dan gelas, akhirnya Mas lah yang akan mencucinya. Setelah semuanya selesai, Mas dan aku akan nonton acara televisi yang menayangkan film-film luar negeri yang hanya itu-itu saja dan diulang-ulang, tetapi entah kenapa kami berdua tetap setia menontonnya.

Hampir tiap hari ibu selalu pergi, tapi terkadang ia akan tinggal seharian penuh di rumah 4-5 hari karena temannya tidak datang. Saat itulah aku harus mencuci piring sendiri dan tidur tepat waktu, tapi aku sebenarnya lebih senang kalau ibu terus ada di rumah.

“Mas, dek, bangun, sekolah, siapa yang mau mandi duluan ? cepet nggak usah rebutan, gantian. Ibu buatin sarapan ya, kalian mau telur dadar apa telur mata sapi ?”

Hari ini kami sedang tidak beruntung, biasanya ibu akan pulang dengan membawa makanan enak untuk sarapan. Aku tidak pernah tau ibu pulang jam berapa, selalu tiba-tiba membangunkan kami untuk berangkat sekolah. Pernah sekali aku inggin menunggu ibu pulang, kopi hitam dan camilan sudah aku persiapkan untuk menunggu ibu sambil menonton televisi, tapi tetap saja mataku ini tidak kuat untuk manahan kantuk.

“Ibu berangkat dulu ya, buru-buru. Nasinya udah diangetin, kalau udah laper goreng telur sendiri. Jangan lupa, habis maem piring sama gelasnya dicuci sekalian, jangan Mas terus yang suruh nyuciin, terus PR-nya dikerjain, kalau nggak tau tanya Mas. Tidurnya jangan malem-malem, besok sekolah. Ibu tinggal ya, yang akur sama Mas, jangan berantem.”

 


Previous post     
     Blog home

The Wall

No comments
You need to sign in to comment

Post

By Raihana Citra Betary
Added Nov 28 '16

Tags

Rate

Your rate:
Total: (0 rates)

Archives