ISU POLITIK NASIONAL DAN INTERNASIONAL from GARNITA ADIRA PRASASTI's blog

LISA EKA PRASASTY

D-3 PERPUSTAKAAN

 

ISU POLITIK NASIONAL (INDONESIA)

 

1.      DAMPAK KENAIKAN BBM

 

Akhirnya BBM akan naik pada saatnya. Kenaikan BBM masih terus menjadi isu dan bahkan menjadi polemik hangat di pelbagai media. Rencana pemerintah bak gertakan sambal kepada masyarakat tentang kenaikan BBM ini. Namun masih belum kunjung diputuskan tentang kenaikan BBM ini secara konkret. Hal ini mengingat pemerintah harus betul-betul memperhitungkan dampak sosial, ekonomi, politik dan keamanan terhadap kenaikan BBM nantinya. Beberapa wacana mekanisme kenaikan BBM dengan berbagai skenario telah digulirkan. Terakhir pemerintah berencana memberikan dua harga BBM bersubsidi yaitu Rp. 4,500 per liter bagi kendaraan umum dan sepeda motor, dan Rp. 6,500 per liter bagi kendaraan mobil pribadi. Tak ayal kebijakan langkah tersebut langsung mendapat respon negatif dari masyarakat maupun pengusaha SPBU sendiri. Kerumitan mekanisme dua harga dianggap menimbulkan resiko penyelewengan yang lebih besar lagi terhadap BBM bersubsidi.

 

Disisi lain ketika pemerintah menaikkan hanya satu harga yaitu Rp. 6,500 per liter juga mendapat kritikan dari Politisi yang berseberangan dimana pemerintah dianggap hanya mencari gampangnya saja. Waktu terus bergulir. Pemerintah harus arif dalam mengambil langkah yang tepat dan menaikkan harga BBM bersubidi secara terukur dan mekanisme yang mudah diikut oleh masyarakat namun meningkatkan keefektifan dalam mengendalikan BBM bersubsidi tersebut.Menjamurnya jumlah SPBU diberbagai tempat justru bertolak belakang dengan upaya pemerintah untuk membatasi BBM bersubsidi. Berbagai kebocoran BBM bersubsidi yang terjadi melalui penyelundupan BBM bersubsidi diarea perbatasan dengan negara asing justru semakin marak. Beberapa kali petugas menangkap beberapa kapal yang mengangkut BBM bersubsidi yang hendak dibawa keluar negeri di perairan Kepulauan Riau. Hal ini sangat disayangkan. Ada pihak-pihak tertentu yang masih bebas melakukan kegiatan haram tersebut sedangkan rakyat terus dirongrong kenaikan BBM bersubdisi yang ditakuti berdampak kepada kenaikan harga barang konsumsi secara masif. Akibatnya daya beli masyarakat menurun tajam.

 

Kenaikan BBM bersubsidi dinilai oleh sebagian pihak dirasa sudah terlambat. Kesenjangan harga yang semakin jauh menyebabkan pemerintah semakin gamang menaikkan harga BBM. Sehingga hal ini menjadi simalakama tahun politik. Kalau kenaikan BBM memang harus dilakukan sebaiknya pemerintah menaikkan harga BBM tersebut tidak secara drastis. Dilakukan dengan mekanisme yang mudah, cukup satu harga. Katakanlah kenaikan sebesar Rp. 500 per liter. Sehingga menjadi Rp. 5.000 per liter hal ini dirasa tidak akan memberikan dampak yang besar terhadap berbagai sektor sambil melihat kestabilan ekonomi, politik dan keamanan dalam negeri beban terhadap APBN bisa semakin dikurangi.

 

2.      Penyebab pada tensi Politik pada PILPRES 2014 TERTUNGGI DALAM SEJARAH

Tensi politik menjelang dan pasca pilpres 2014 yang berlangsung 9 Juli 2014 sangat tinggi. Tingginya tensi politik ini melibatkan sentimen tidak hanya dikalangan elit politik namun juga di kalangan rakyat akar rumput. Dampak positifnya adalah tingkat partisipasi rakyat yang semakin meningkat dibanding dengan pemilu pada periode-periode sebelumnya. Pilpres 2014 benar-benar telah membuat rakyat melek politik. Pasalnya dalam pilpres tahun ini banyak terjadi pergulatan politik dimana hanya ada dua pasangan capres cawapres.

 

HANYA ADA DUA PASANG CAPRES DAN CAWAPRES

Prabowo Subianto berpasangan dengan Hatta Rajasa dengan nomor urut satu dan terkenal dengan salam satu jari dengan mengacungkan telunjuk.  Di lain kubu, Joko Widodo yang merupakan Gubernur DKI nonaktif berpasangan dengan Jusuf Kalla mantan Wakil Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono periode 2004-2009 dengan nomor urut 2 dan terkenal dengan salam 2 jari yaitu mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah. Pasangan Jokowi-JK didukung oleh partai pemenang pileg 2014 yaitu PDIP yang kemudian berkoalisi dengan PKB, Hanura, Nasdem dan PKPI yang keseluruhan total suara di DPR hanya sekitar 40%. Sedangkan pasangan Prabowo-Hatta didukung oleh Partai Gerinda, PKS, PPP, Golkar, PAN, PBB dengan total perolehan suara di pileg 2014 berkisar 60%. Belakangan, meskipun Partai Demokrat secara resmi bersikap netral namun ketua harian mengatakan mendukung Capres Prabowo Hatta.

 

Partai Golkar sebetulnya merupakan partai kedua yang memperoleh suara terbanyak di pileg 2014 setelah PDIP. Namun ternyata capres dari Golkar yaitu Abu Rizal Bakri (ARB atau akrab dipanggil Ical) tak mendapat repson dari rakyat sehingga gagal untuk men-capres dan malah memilih berkoalisi dengan Prabowo Hatta. Di DPR periode 2014-2019, komposisi Koalisi Merah Putih, jika tak berubah, terdiri dari Gerindra (73 kursi), Golkar (91), Partai Demokrat (61), PAN (49), PKS (40), dan PPP (39). Total kursi koalisi ini berjumlah 353 kursi, atau 63 persen kursi DPR. Sedangkan koalisi pro Jokowi, yang selama ini dikenal tanpa syarat, terdiri dari PDIP (109 kursi), PKB (47), NasDem (35), dan Hanura (16). Total kursi koalisi ini berjumlah 207, atau 37 persen kursi DPR.

 

 

 

2 ISU POLITIK LUAR NEGERI

1.      Korea Utara dan Korea Selatan

Tahun ini dunia dihebohkan dengan berita tentang konflik anatara negara Korea Selatan dengan Korea Utara. Hal ini dikarenakan kedua negara tersebut memilih untuk berdamai dan menyatukan visi mereka. Hal itu tentu membuat warga Korea bahagia mengingat kedua negara tersebut sudah mengalami konflik sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu.

Tentu hal ini memberikan pertanyaan besar terkait adanya aksi damai dari kedua negara tersebut. Alasan kuatnya adalah Korea Utara bersedia menangguhkan senjata nuklir mereka yang sebelumnya telah gagal dalam uji coba musim panas kemarin.

2.      Krisis ekonomi, Rusia bantu Menyeimbangkan Dunia

Nama mantan Menteri Luar Negeri AS dan pakar hubungan internasional yang kini berusia 95 tahun, Henry Kissinger, sering muncul terkait isu Rusia, seperti halnya laporan tentang dugaan proposal yang ia buat untuk aliansi Moskow-Washington melawan Beijing. Ia dikenal karena pemikiran nonortodoks dalam pendekatan Barat ke Rusia. Berikut adalah pemikiran dan pernyataannya yang paling penting tentang Rusia di masa lalu dan sekarang.

Rusia dibangun oleh elite yang mengirim budak ke ladang yang jauh dan oleh Tsar yang menyatakan "Tanah rawa ini akan menjadi kota Odessa atau kota Sankt Peterburg." Mereka sebagian didukung oleh semacam hubungan mistik dengan kesulitan dan visi mereka. Mereka bertahan berabad-abad di bawah orang Mongol.

Charles XII dari Swedia pergi ke Rusia [pada awal abad ke-18] karena ia pikir akan mudah untuk bagi negaranya untuk menguasai Moskow. Apa yang ia temukan adalah petani Rusia membakar hasil panen mereka sendiri agar pangan tak direbut penjajah. Mereka membuat diri sendiri kelaparan sebelum mengizinkan Charles XII mengambil alih negara mereka. Ia telah melintasi Eropa, tetapi belum pernah melihat kejadian seperti ini sebelumnya. Pasukannya terpaksa pergi ke selatan, ke Ukraina, hanya untuk bertahan hidup, di mana mereka akhirnya kalah.

Hanya sedikit negara di dunia selain Rusia yang memulai lebih banyak perang atau menyebabkan lebih banyak gejolak  dalam pencarian abadi untuk keamanan dan status. Namun, juga benar bahwa pada titik kritis Rusia membantu menyeimbangkan dunia dari kekuatan-kekuatan yang berusaha menguasainya: dari bangsa Mongol pada abad ke-16, dari Swedia pada abad ke-18, dari Napoleon pada abad ke-19, dan dari Hitler pada abad ke-20.


Previous post     
     Blog home

The Wall

No comments
You need to sign in to comment

Post

By GARNITA ADIRA PRASASTI
Added Aug 14

Rate

Your rate:
Total: (0 rates)

Archives